Headline

1.341 Pejabat Publik Daerah Terlibat Korupsi * Bruder "Preman" Pontianak * Petani Kopi Bajawa Kesulitan Modal * Coffee Manggarai: Black Gold * Tradisi “Suap” dan "memburu" proyek * Kota Labuan Bajo Terus Berkembang *

Jumat, 07 Juni 2013

Obrolan warung kopi: Belanda jadi Tuan Rumah di GBK

Pertandingan persahabatan timnas Indonesia Vs Timnas belanda disamsikan jutaan penduduk indonesia, sabang sampai mauroke. Menurut kompas.com pertandingan ini juga disiarkan di Belanda dan 12 negara di asia.

Ada yang menarik bagi saya dari pertandingan ini selain Indonesia kalah telak 3:0, yaitu soal kostum. Belanda seolah tuan rumah di stadiun
Gelora bungkarno-GBK
 
Dalam peraturan internasional, menegaskan pertandingan sepakbola, tuan rumah berhak menentukan kostum yang akan dipakai oleh timnya, dan tim yang bertandang, harus mengenakan kostum dengan warna yang jauh berbeda, agar mudah dibedakan di lapangan.
 
Tim nasional Indonesia, apabila bertanding di Indonesia, selalu mengenakan kostum warna MERAH-PUTIH. Demikian juga tim nasional Belanda, apabila bertanding di Belanda,selalu mengenakan kostum
nasionalnya,yaitu warna oranye.
 
Namun dalam pertandingan sepakbola antara tim RI dengan Belanda di Stadion Gelora Bung Karno di Senayan, Jakarta, tanggal 7
Juni 2013, yang berakhir dengan kemenangan tim Belanda 3-0, kita menyaksikan pemandangan yang berbeda ternyata yang mengenakan
kostum nasionalnya adalah tim Belanda, yang mengenakan warna oranye, sedangkan tim Indonesia yang seharusnya adalah tuan rumah, terpaksa mengenakan kostum
warna Putih-Hijau.
 
Kelihatannya ini masalah kecil, namun ini menyangkut MARTABAT BANGSA.
 
Belanda beralasan, hal ini sudah disepakati dengan pihak promotor yang mendatangkan timnas Belanda, sehingga mereka hanya membawa satu macam kostum. Apakah bisa dipercaya pernyataan dari timnas yang sudah malang-melintang di lapangan hijau di seluruh dunia? Lalu promotor yang mendatangkan timnas Belanda: Nine Sports? Katanya sudah berkoordinasi dengan PSSI. Lalu PSSI? Katanya tidak benar sudah ada koordinasi! Siapakah Nine Sports
ini?
 
Tak ada Merah Putih di Lapangan

Rakyat Indonesia harus mengetahui, bahwa hingga kini Belanda tetap tidak mau mengakui de jure kemerdekaan Republik Indonesia adalah 17.8.1945.
Untuk Belanda, dejure kemerdekaan RI adalah 27.12.1949, yang dipandang Belanda sebagai "hadiah" dari Belanda kepada

Republik Indonesia Serikat (RIS). RIS sudah dibubarkan pada 16.8.1950, dan pada 17.8.1950 dinyatakan berdirinya kembali NKRI yang kemerdekaannya 17.8.1945. Tetapi Belanda tetap tidak mau mengakuinya,dan proklamasi 17 Agustus 1945 ini identik dengan MERAH-PUTIH.
 
Kelihatannya, di lapangan hijaupun Belanda tidak mau melihat MERAH-PUITIH, dan dengan berkonspirasi dengan pihak-pihak di Indonesia, Belanda sekali lagi berhasil menunjukkan,SIAPA TUAN RUMAH DI SINI! (Indonesia-red)
 
Kekalahan Indonesia 0 – 3 dari Belanda menjadi symbol kekalahan tiga kali, yaitu 1., Kekalahan di lapangan rumput, 2. kekalahan Politik, 3. Kehilangan Martabat.

Ya sudahlah, semua memang tak sesedap kopi arabika manggarai Flores yang sedang saya cicipi ini.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Rabu, 29 Mei 2013

1.341 Pejabat Publik Daerah Terlibat Korupsi


Kementerian dalam Negeri meliris sedikitnya 1.050 anggota DPRD Kabupaten/Kota dan 291 kepala daerah terlibat korupsi dalam kurun waktu 2004-2013. Dari 3.000 anggota dewan yang berkasus, terdapat 1.050 orang diantaranya (40,07 persen) teridentifikasi kasusnya adalah korupsi disusul perzinahan, pemerasan dll.

Sementara untuk kepala daerah, sejak diberlakukannya pemilukada langsung hingga awal 2013, kepala daerah yang terbelit kasus hukum mencapai 291 orang. Dari jumlah itu, 70 persen di antaranya akibat terlibat praktik tindak pidana korupsi.

Depertemen dalam negeri mencatat sedikitnya 21 gubernur, 7 wakil gubernur, 156 bupati, 46 wakil bupati, 41 wali kota dan wakil wali kota 20 orang yang terjerat kasus korupsi itu. Tidak hanya itu, Kasus Korupsi juga menjerat aparatur pemerintah-PNS. Jumlahnya cukup besar mencapai 1.221 orang. 185 orang menjadi tersangka, 112 terdakwa, 877 terpidana dan 44 orang berstatus saksi. 

Selain contoh besarnya persentase kepala daerah yang terlibat korupsi—tidak seluruhnya korup, sebagian karena kesalahan manajemen—masih banyak contoh lain. Jabatan publik, dalam artian kedudukan dan eksistensinya dari rakyat dan untuk rakyat, ternodai. Efektivitas dan efisiensi praksis pemerintahannya mandul.

Ketika perilaku wakil rakyat—tidak seluruhnya memang—tidak pantas jadi teladan, eksistensi mereka tidak lebih dari ”togok” dalam kisah pewayan

Selasa, 28 Mei 2013

Bruder "Preman" Pontianak

Jabatan sebagai kepala bagian logistik di sebuah kantor cabang perusahaan farmasi di Pontianak, Kalimantan Barat, cukup memberikan jaminan hidup bagi Stephanus Paiman. Namun, ketidakadilan yang menimpa dua rakyat jelata di Pontianak menyebabkan Steph, panggilannya, memutuskan berhenti bekerja.
Peristiwa pertama adalah kematian seorang tukang bakso akibat ditabrak anak pejabat menggunakan sepeda motor. Namun, anak pejabat ini bebas dari proses hukum walaupun dia bersalah.
Peristiwa kedua juga menyangkut kematian seorang warga. Kali ini warga dibacok anak pejabat yang mabuk setelah keluar dari pesta di sebuah tempat hiburan malam. Lagi-lagi si anak pejabat itu bebas dari jerat hukum, dan kasus kematian warga pinggiran itu menguap.

Petani Kopi Bajawa Kesulitan Modal

Proses panen dan pengolahan kopi di Desa Beiwali, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, terganggu. Hal itu karena dana untuk membayar biji kopi hasil panen dari tangan petani belum siap.
Nela, warga Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur,
memanen biji kopi di halaman rumahnya,
Modal untuk kebutuhan pembayaran kopi ini persoalan klasik yang dialami Gabungan Kelompok Tani dan Koperasi Serba Usaha Fa Masa di Desa Beiwali. Padahal, produk kopi yang dihasilkan itu diekspor ke Amerika Serikat melalui pihak lain.
”Saat ini sebenarnya sudah masuk masa

For the Manggarai People of Flores, Coffee is More Than Just a Crop or a Drink.


The coffee was Arabica.

                                                                       
It was served in a petite, colorful glass, its jet-black residue banked up at the bottom. The gritty texture gently massaged my tongue, tickling the excitable tissues of my soft palate. As I waited for its lean acidity to unravel itself fully from the intoxicating sweetness of the sugar that had captured my taste buds, I raised the glass close to my nostrils and inhaled greedily. The rising vapor settled within me, its warmth filling my nasal cavities, its gorgeous aroma sending my olfactory nerves firing on all cylinders. My eyes, shorn of conscious control, rolled upward, as if my irises had arranged a tryst with my drooping eyelids.

During that timeless yet transient moment, Manggarai coffee entered my soul. The spell of ecstasy

Coffee Manggarai: Black Gold


Black Gold

From a very young age, children of the Manggarai tribe must not only learn to drink their homegrown coffee and love it (that comes pretty naturally), but also to weave the daily sight of – and interaction with – the coffee plant, with its budding flowers, its fleshy red cherries and especially its fragrant beans, into their narrative of reality. As I joked with the younger boys, two girls aged no more than 10 were gaily pounding pestles taller than themselves into a huge timber mortar, rhythmically, dexterously pulverizing the beans inside into rough powder.

“We do this sometimes once or twice a week, sometimes every other day,” the woman who’d served us the brew remarked. “Always plenty of beans for all of us!”

“From Komodo With Love”

Orang komodo percaya bahwa komodo adalah saudara kembar mereka. Itulah yang membuat orang asli komodo “suku bajau yang pertama kali menemukan pulau komodo” tidak pernah mau meninggalkan pulau tersebut sekalipun sudah ditetapkan sebagai kawasan konservasi/National Park karena adanya binatang purba varanus komodensis tersebut. Sekalipun sudah banyak kejadian binatang langka tersebut memangsa penduduk sekitar itu.Fantastisnya, mereka percaya bahwa binatang langka tersebut tidak pernah mencelakai suku asli, kalaupun yang celaka hanyalah orang keturunan atau bukan suku asli. 

Kota Labuan Bajo Terus Berkembang

LABUAN Bajo baru sembilan tahun berstatus sebagai ibu kota Kabupaten Manggarai Barat, terhitung sejak pemekaran dari induknya, Manggarai, tahun 2003. Namun, pertumbuhannya sangat fenomenal. Labuan Bajo kini menjadi satu-satunya kota kabupaten di NTT yang telah didukung hotel berbintang.


Jumat, 24 Mei 2013

World Statesman Award; Antara Ngotot dan Sadar Diri ala SBY

 
KONTROVERSI pemberian penghargaan kepada Presiden Yudhoyono semakin menunjukkan keganjilan. Semakin diamati, tampak semakin aneh dan semakin mengundang pertanyaan. Bisa dikatakan ganjil karena pertama, organisasi yang memberikan penghargaan tersebut the Appeal of Conscience Foundation, bukanlah sebuah organisasi ternama. Organisasi ini adalah sebuah organisasi kecil yang tidak jelas orientasinya. Dalam website-nya mereka mengklaim ingin menegakkan perdamaian dengan melibatkan tokoh-tokoh lintas agama dan tokoh-tokoh bisnis.

Organisasi ini memberikan penghargaan kepada tokoh bisnis dan tokoh politik. Ada tiga kepala negara yang diberi penghargaan, yaitu mantan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy, Kanselor Jerman Angela Merkel, dan PM Kanada Stephen Harper. Saya tidak tahu apakah ini kebetulan atau tidak, ketiga kepala negara penerima penghargaan ini berasal dari kalangan kanan-konservatif.

Pemberian penghargaan kepada tokoh-tokoh ini mungkin memperlihatkan kuatnya pengaruh Foundation ini, terutama pendirinya, Rabbi Arthur Schneier. Namun, tidak dengan serta merta menempatkan Foundation ini sebagai lembaga berwibawa, yang penghargaannya bisa dipergunakan oleh penerimanya untuk menyampaikan pesan yang ingin disampaikan oleh pemberinya. Misalnya, penerima Nobel Perdamaian jelas akan dihormati pendapatnya karena penerimanya itu membawa pesan dari Komite Nobel dalam hal perdamaian.

Gubernur baru NTT: Perubahan atau Bencana

Pemilihan gubernur ntt hampir masuk titik final. Siapapun yang terpilih dia adalah figur dambaan masayarakat NTT. Pada puataran kedua ini adalah minus malum artinya dua-duanya buruk dan kita hanya pilih mana yang kurang buruk.

Argumrn saya berdasarkan data-data dimana NTT masih disebut propinsi terkorup dan termiskin di antara semua propinsi di Indonesia. perang tanding merebut tanah tak pernah ada habisnya, kasus kasus pertambnagan ilegal masih menjadi isu sentral di NTT. Siapaun dianatara dua calon yang terpilih menjadi gubernur NTT adaah calon yang kenal baik tentang NTT.

Freeport dan award SBY


Saya menduga pemberian award ada kaitan dengan Freeport Kandungan emas terbukti di tambang Grasberg Papua, mencapai 1.600 ton dengan pendapatan Rp 480 triliun. Secara keseluruhan pendapatan Freeport dari emas, perak dan tembaga mencapai Rp 8000 triliun. Padahal, luas areal t

Jumat, 04 Mei 2012

Meeting Komodo's deadly dragon

The meat-eating Komodo dragon can grow to more than three metres in length and is the world's largest living lizard.

Although it is considered a vulnerable species and protected by the government, the lizard is coming into contact with humans more frequently.

As Al Jazeera's Step Vaessen reports that has led to an increasing spate of attacks (19 Mar 2010)

Indonesian Christians under attack

Violent attacks against Christians in Indonesia have forced the closure of 20 churches in recent months, testing the fragile religious balance in predominantly-Muslim nation.

But the government denies the incidents are a sign of growing religious intolerance, putting the blame on politics and regional elections instead.

Al Jazeera's Step Vaessen reports from West Java. (May 11, 2010)

Kamis, 03 Mei 2012

Pesona Alam Labuan Bajo


Kota Labuan Bajo di Kecamatan komodo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT bukan sekadar Kota biasa. Tinggal beberapa hari di sana akan membawa Anda menemukan sisi lain keindahan Flores.

Tak ada habisnya membicarakan keindahan alam Flores. Mulai dari bukit, laut, hingga pantainya indah untuk dipandang. Alamnya yang masih asri menambah kenikmatan tersendiri saat berkunjung ke sana.

Salah satu kawasan yang menawarkan keindahan alam Flores adalah Labuan Bajo di Taman Nasional Komodo. Dilihat dari website pariwisata Indonesia, Labuan Bajo adalah sebuah pelabuhan kecil yang cantik di ujung Barat Flores.

Waktu terbaik untuk menikmati Labuan Bajo adalah sore menjelang malam. Datanglah ke pelabuhan dan nikmati pergantian sore ke malam di sana.

Pada sore hari, saat matahari belum terbenam, Anda bisa melihat hamparan laut dengan hiasan pulau-pulau kecil di atasnya. Jika penasaran dengan alam bawah lautnya, terjun dari atas dermaga pasti seru.
Lepas baju Anda dan terjunlah ke lautan. Temukan ikan aneka warna dan ukuran yang dijamin cantik. Menyelam lebih dalam lagi, ada banyak terumbuh karang berbagai ukuran menanti.

Alam bawah laut Labuan Bajo memang masih bersih dan bebas dari tangan jahil. Kebanyakan wisatawan yang datang sangat peduli lingkungan dan menjaga kelestarian bawah laut Bajo. Jadi tak heran kalau kecantikkan bawah laut Labuan Bajo masih terjaga.

Begitu menjelang matahari terbenam, hentikan penyelaman Anda untuk menyaksikan momen terbaik di Bajo. Pastikan Anda menyaksikan siluet kemerahan dari ufuk barat Flores.

Suasana Labuan Bajo di pagi hari tak kalah cantik dengan sore hari. Di pagi hari, Anda bisa menghirup udara segar Bajo, sambil menjejakkan kaki di atas pasir putih pantainya.



Berbagai fasilitas untuk wisatawan di Labuan Bajo sudah bisa dibilang komplet. Ada banyak penginapan dan tempat menyewa alat selam juga perahu motor di sana. Ingin berkeliling dengan mobil? Rental penyewaan mobil juga tersedia. Pokoknya lengkap. Ayo Ke Labuan Bajo sekarang







Minggu, 29 April 2012

Sahrul dan Sahril ditelantarkan oleh Negara


Kakak beradik Sahrul (8) dan Sahril (6) selalu menyendiri disebuah rumah taklayak huni di daerah Kelurahan Lantora, Kecamatan Polewali, Kabupaten Polman, Sulawesi Barat. Kondisi kedua bocah ini sangat memperihatinkan.
Sahrul dan Sahril

Badan Sahrul dan Sahril terlihat kurus, seperti tinggal tulang yang berbalut kulit. Berat badan keduanya pun jauh dari kondisi normal. Sahrul hanya memiliki berat 8 kilogram, sedangkan berat badan Sahril hanya 6,5 kilogram.

Orangtua kedua bocah itu telah meninggal lima tahun silam. Mereka diasuh oleh keluarga sang bibi, Nurhayati, yang kehidupannya pas-pasan. Nurhayati bekerja sebagai penjual sayur di pasar tradisional. Mereka tidak bisa memberikan asupan gizi yang cukup untuk Sahrul dan Sahril.

Penghasilan sang bibi dari berdagang sayur, ternyata sangat jauh dari cukup untuk menopang kehidupan mereka. Sebab, sebagian uang dipakai untuk membayar bunga utang.


Untuk mengganjal perut, sejak tujuh tahun silam keduanya hanya mengonsumsi air tajin. Itulah sebabnya Sahrul yang kini berusia tujuh tahun hanya memiliki berat badan sembilan kilogram, sementara Sahril, sang adik hanya delapan kilogram.

Undang-Undang Dasar 1945 memang mengamanatkan negara untuk memelihara fakir miskin dan anak telantar. Sayang, amanat itu tak dirasakan Sahrul dan Sahril. Kedua bocah malang ini  ditelantarkan oleh Negara, sunguh mereka hidup tanpa peran Negara.

Minggu, 01 April 2012

Paus dan Castro

Paus Yohanes Paulus II dan Fidel Castro
Empat belas tahun silam, 21-25 Januari 1998, Paus Yohanes Paulus II mengunjungi Kuba. Kunjungan itu atas undangan pemimpin Kuba Fidel Castro. Dari sudut pandang Vatikan, inilah perziarahan pastoral atau perziarahan sebagai gembala yang dimaksudkan untuk memperkuat Gereja Katolik Kuba guna menghadapi masa depan Kuba, apa pun bentuknya.

Dari sudut pandang Havana, inilah bagian dari usaha pemerintahan Fidel Castro untuk mengintegrasikan Kuba dengan kehidupan belahan bumi Barat. Kebijakan Castro itu didorong oleh peristiwa luar biasa yang terjadi di Uni Soviet: runtuhnya rezim komunisme Uni Soviet dan bubarnya negara tersebut menjadi banyak republik merdeka. Dengan hancurnya Uni Soviet, Kuba kehilangan sumber subsidi yang telah lama dinikmati, ditambah lagi dengan embargo ekonomi dari AS.

Akan tetapi, bila dilihat secara lebih luas, inilah sentuhan terakhir dalam drama ideologi terbesar di akhir abad ke-20, yakni konflik antara humanisme atheistik dan humanisme Kristiani. Komunisme, yang dianut Kuba, adalah ekspresi humanisme atheistik. Dan, kedatangan Paus Yohanes Paulus II ke Kuba menawarkan kembali humanisme Kristiani.

Dalam salah satu khotbahnya waktu itu, Paus Yohanes Paulus II mengatakan, humanisme Kristiani itu membebaskan atau kemanusiaan dalam iman Kristiani berarti pembebasan: manusia adalah ciptaan yang diberi kebebasan untuk menentukan hidupnya.
Kenangan atas kunjungan Paus Yohanes Paulus II itu kemarin hidup lagi saat Paus Benediktus XVI mengunjungi Kuba. Paus Benediktus XVI menyebut kunjungan pendahulunya itu ”bagaikan angin sepoi-sepoi yang memberikan kekuatan baru pada Gereja Kuba”.

Ia seperti menapaki kembali jalan yang dulu dilalui Paus Yohanes Paulus II. Ia mengunjungi Kuba untuk ”perziarahan kemurahan hati” dan akan berdoa untuk perdamaian, kebebasan, dan rekonsiliasi (The Christian Science Monitor, 26/3). Inilah bahasa lain dari ”perziarahan pastoral”, istilah yang dulu digunakan Paus Yohanes Paulus II. Dulu, Paus Yohanes Paulus II disambut Fidel Castro, kini Paus Benediktus XVI disambut Raul Castro. Keduanya mengenang kunjungan bersejarah Paus Yohanes Paulus II.

Yang terjadi saat ini, menurut Brenda Carranza, seorang pakar studi-studi keagamaan di Pontificia Universidade Catolica de Campinas, di Brasil, sama seperti saat Paus Yohanes Paulus II mengunjungi Kuba. Pemerintah Kuba butuh membangun jembatan untuk berhubungan dengan dunia internasional. Dan, Gereja Katolik membantu membangun jalan ke arah sana. Itulah sebabnya Raul Castro mengatakan, Kuba yang sosialis memberikan kebebasan penuh untuk beragama dan menjalin hubungan yang baik dengan Gereja Katolik.

Dengan mengatakan itu, ia berharap, lewat Gereja, Kuba dapat memperoleh lagi legitimasi, lebih banyak kepercayaan, dan menarik investasi dari Barat. Gereja barangkali memang bisa menjadi jembatan yang menghubungkan Kuba dengan Barat. Kuba tidak bisa terus hidup ”di dalam tempurung”.

Oleh karena itu, Paus Benediktus XVI mengingatkan bahwa struktur Marxist Kuba ”tidak lagi cocok dengan realitas (dewasa ini)”. Kuba harus mengadopsi ”model baru”. Model mana yang akan diambil Kuba? Model Rusia atau model China? Yang pasti komunisme sudah mati! Komunisme terbukti gagal.

sumber : Kompas/Trias Kuncahyono

Prosesi Minggu Palma, Simbol Kemunafikan Manusia


Lewat bacaan prosesi daun palem, Saya dan anda kemudian mengetahui bagaimana Yesus pada massa itu memasuki Yerusalem. Yesus menunggang keledai dan dielu-elukan sebagai Dia yang datang dalam nama Tuhan. Ranting-ranting hijau dan menghamparkan pakaiannya diletakkan dijalan, hingga kaki keledai tak menapak ditanah. 

Keledai dalam budaya Timur adalah simbol binatang damai, Karenanya kedatangan Yesus di Yerusalem dengan menunggang keledai melambangkan kedatanganNya sebagai Raja Damai. Dalam bacaan tidak disebut pemakaian daun palem, tetapi dalam tradisi Yahudi, daun palem adalah lambang kemenangan. ‘Hosana, Hosana Putra Daud” seruan para penduduk Yerusalem menyambut kedatangan Yesus

Pristiwa ini yang terus dirayakan setiap Minggu Palma sebagai kisah Ironi sekaligus pristiwa tentang kemunafikan manusia, Plin Plan, kurang lebih seperti massa Demonstran bayaran dalam konteks sekarang, yang hari ini berteriak "Hosana!", lalu esok harinya berteriak "Salibkan Dia!" dengan semangat dan gairah yang sama. 

Saya selalu memahami Minggu Palma sekadar sebagai keramaian massa yang murahan, seperti pawai-pawai yang sering saya saksikan. Yang hari ini hiruk-pikuk dan ramai setengah mati, seolah-olah seluruh kota sesak bertabur bunga. Akan tetapi, keesokan harinya senyap dan mati, cuma menyisakan timbunan sampah di sudut-sudutnya. Tanpa Makna, tanpa Arti.

Namun, kalau begitu, apakah pentingnya Prosesi minggu Palma bagi Anda dan saya?

Minggu, 25 Maret 2012

Curhat, Jurus Politik Belas Kasihan Ala SBY


PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono mencurahkan isi hati alias curhat lagi. Yudhoyono, dalam silaturahim Partai Demokrat di kediaman pribadi di Cikeas, Bogor, Minggu (18/3) malam, curhat tentang adanya rencana kudeta terhadap dirinya.  

Yudhoyono juga berkeluh kesah soal adanya ancaman terhadap keselamatan diri dan keluarganya. Ancaman itu, menurut Yudhoyono, disampaikan melalui pesan singkat kepada Ibu Negara Kristiani Herawati Yudhoyono.

Belum cukup juga, Yudhoyono pun menyebutkan dirinya diejek dan dihabisi pers dan lawan politiknya pada 2005. Ketika itu, menurut Yudohono, pers dan lawan politiknya menyebut dirinya peragu ketika mengambil keputusan menaikkan harga bahan bakar minyak.

Soal ancaman kudeta, Yudhoyono semestinya tidak perlu curhat. Dia bisa langsung memerintahkan Badan Intelijen Negara menyelidikinya. Yudhoyono bisa memerintahkan aparat keamanan untuk menangkap dan mengambil langkah hukum terhadap pelaku.

Terkait dengan ancaman keselamatan terhadap diri dan keluarga, Yudhoyono semestinya tak perlu takut. Toh, sebagai presiden, Yudhoyono dan keluarganya mendapat penjagaan dan pengawalan ekstra ketat 24 jam penuh dari Paspampres.
Jika presiden yang mendapat fasilitas pengamanan masih merisaukan keselamatannya, bagaimana pula rakyat yang setiap hari keselamatannya terancam di angkutan umum atau di jalan raya?

Yudhoyono semestinya juga tidak perlu menuding pers dan lawan politik menghujatnya sebagai presiden peragu. Sebagai negarawan, Yudhoyono semestinya memandangnya sebagai kritik.

Pers dan lawan politik bukan menjelek-jelekkan. Mereka sekadar menyampaikan dan memberitakan hal jelek. Menjelek-jelekkan berbeda dengan memberitakan hal jelek. Menjelek-jelekkan artinya mencari-cari kesalahan atau kejelekan seseorang. Memberitakan hal yang jelek artinya menyampaikan sikap atau perilaku yang tidak pas dari seseorang.

Oleh karena itu, Yudhoyono seharusnya memandang semua itu sebagai risiko jabatan. Semua presiden mengalami hal serupa. Presiden Soekarno, misalnya, bahkan tidak Cuma menghadapi ancaman, tetapi juga beberapa kali mengalami upaya pembunuhan. Toh, Bung Karno tidak perlu curhat soal itu.

Sesungguhnya, bukan kali ini saja Presiden Yudhoyono curhat tentang adanya ancaman keselamatan terhadap dirinya. Curhat serupa pernah dilakukan Presiden dalam konferensi pers di halaman Istana Negara pada 17 Juli 2009.

Lalu, pada 7 Agustus 2010, Yudhoyono juga curhat di depan peserta Sekolah Calon Tamtama Rindam III Siliwangi Jawa Barat. Karena terlampau sering mengungkapkan keluh kesahnya, jangan salahkan bila publik menilainya secara kritis. Publik antara lain menilai jangan-jangan Yudhoyono tengah memasang jurus politik belas kasihan.

Artinya, Yudhoyono seolah ingin mengatakan dirinya terancam dan teraniaya agar publik berbelas kasih. Faktanya, alih-alih berbelas kasih, publik justru memandangnya secara negatif. Presiden juga manusia. Manusiawi belaka jika Presiden Yudhoyono ingin menumpahkan isi hatinya. Namun, curhat itu semestinya dilakukan terbatas, tidak diumbar ke publik.