Headline

1.341 Pejabat Publik Daerah Terlibat Korupsi * Bruder "Preman" Pontianak * Petani Kopi Bajawa Kesulitan Modal * Coffee Manggarai: Black Gold * Tradisi “Suap” dan "memburu" proyek * Kota Labuan Bajo Terus Berkembang *
Tampilkan postingan dengan label Kebijakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebijakan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Maret 2012

Curhat, Jurus Politik Belas Kasihan Ala SBY


PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono mencurahkan isi hati alias curhat lagi. Yudhoyono, dalam silaturahim Partai Demokrat di kediaman pribadi di Cikeas, Bogor, Minggu (18/3) malam, curhat tentang adanya rencana kudeta terhadap dirinya.  

Yudhoyono juga berkeluh kesah soal adanya ancaman terhadap keselamatan diri dan keluarganya. Ancaman itu, menurut Yudhoyono, disampaikan melalui pesan singkat kepada Ibu Negara Kristiani Herawati Yudhoyono.

Belum cukup juga, Yudhoyono pun menyebutkan dirinya diejek dan dihabisi pers dan lawan politiknya pada 2005. Ketika itu, menurut Yudohono, pers dan lawan politiknya menyebut dirinya peragu ketika mengambil keputusan menaikkan harga bahan bakar minyak.

Soal ancaman kudeta, Yudhoyono semestinya tidak perlu curhat. Dia bisa langsung memerintahkan Badan Intelijen Negara menyelidikinya. Yudhoyono bisa memerintahkan aparat keamanan untuk menangkap dan mengambil langkah hukum terhadap pelaku.

Terkait dengan ancaman keselamatan terhadap diri dan keluarga, Yudhoyono semestinya tak perlu takut. Toh, sebagai presiden, Yudhoyono dan keluarganya mendapat penjagaan dan pengawalan ekstra ketat 24 jam penuh dari Paspampres.
Jika presiden yang mendapat fasilitas pengamanan masih merisaukan keselamatannya, bagaimana pula rakyat yang setiap hari keselamatannya terancam di angkutan umum atau di jalan raya?

Yudhoyono semestinya juga tidak perlu menuding pers dan lawan politik menghujatnya sebagai presiden peragu. Sebagai negarawan, Yudhoyono semestinya memandangnya sebagai kritik.

Pers dan lawan politik bukan menjelek-jelekkan. Mereka sekadar menyampaikan dan memberitakan hal jelek. Menjelek-jelekkan berbeda dengan memberitakan hal jelek. Menjelek-jelekkan artinya mencari-cari kesalahan atau kejelekan seseorang. Memberitakan hal yang jelek artinya menyampaikan sikap atau perilaku yang tidak pas dari seseorang.

Oleh karena itu, Yudhoyono seharusnya memandang semua itu sebagai risiko jabatan. Semua presiden mengalami hal serupa. Presiden Soekarno, misalnya, bahkan tidak Cuma menghadapi ancaman, tetapi juga beberapa kali mengalami upaya pembunuhan. Toh, Bung Karno tidak perlu curhat soal itu.

Sesungguhnya, bukan kali ini saja Presiden Yudhoyono curhat tentang adanya ancaman keselamatan terhadap dirinya. Curhat serupa pernah dilakukan Presiden dalam konferensi pers di halaman Istana Negara pada 17 Juli 2009.

Lalu, pada 7 Agustus 2010, Yudhoyono juga curhat di depan peserta Sekolah Calon Tamtama Rindam III Siliwangi Jawa Barat. Karena terlampau sering mengungkapkan keluh kesahnya, jangan salahkan bila publik menilainya secara kritis. Publik antara lain menilai jangan-jangan Yudhoyono tengah memasang jurus politik belas kasihan.

Artinya, Yudhoyono seolah ingin mengatakan dirinya terancam dan teraniaya agar publik berbelas kasih. Faktanya, alih-alih berbelas kasih, publik justru memandangnya secara negatif. Presiden juga manusia. Manusiawi belaka jika Presiden Yudhoyono ingin menumpahkan isi hatinya. Namun, curhat itu semestinya dilakukan terbatas, tidak diumbar ke publik.

Demo BBM VS Intelektualitas

DI tengah merebaknya demonstrasi mahasiswa menentang kenaikan harga BBM, tiba-tiba menyeruak pernyataan Mendikbud M Nuh yang mengimbau mahasiswa untuk mengedepankan intelektualitas dalam mengkritisi suatu kebijakan pemerintah. Menurut dia, jika ada kebijakan yang dinilai tidak memihak rakyat, mahasiswa harus merasa tertantang menanggapinya dengan mengedepankan intelektualitas dan membuka ruang-ruang diskusi.

Menarik digarisbawahi dari pernyataan itu adalah kosakata ”intelektualitas”. Menyimak pernyataan Menteri, seolah-olah hendak menegaskan demo mahasiswa tidak menggambarkan intelektualitas. Benarkah berunjuk rasa tidak menggambarkan intelektualitas?

Sejatinya demonstran itu diharapkan menjadi pilar intelektual. Mereka diharapkan menjadi kelompok inti pembaruan masyarakat yang bobrok.  Idealnya mereka bisa mendorong pembaruan lewat ruang publik. Demonstran bertugas mendinamiskan ruang publik. Sebagaimana ditegaskan filsuf Jurgen Habermas, ruang publik bisa hidup bila diisi dengan wacana, diskursus, debat, dan pertemuan-pertemuan. Hidupnya ruang publik ini akan memberi peluang untuk meraih cita-cita kehidupan bersama yang berujung kepada kesejahteraan.
Salah satu wujud ruang publik yang ada di negeri ini adalah demonstrasi. Secara harfiah demonstrasi berarti pernyataan protes yang dikemukakan secara massal (KBBI, 2001:250), dan melahirkan padanan kata unjuk rasa. Mereka ingin menunjukkan perasaannya tapi sebagian besar perasaan tak sepaham.

Tatkala ada mahasiswa menyatakan ”perasaan tak sepaham”, sesungguhnya mereka tengah menjalankan fungsi intelektual. Kita misalnya, menjalankan fungsi intelektual bilamana bersikukuh dengan hati nurani. Kita berhati nurani ketika berkesadaran moral, yakni sadar bahwa mutlak memilih yang benar. Kesadaran ini berasal dari diri sendiri, dan tidak dapat ditawar-tawar. Kalau kita tulus menjalankan fungsi intelektual sudah barang tentu harus mengalahkan pergolakan batin dan menempatkan hati nurani sebagai pemenang.

Rasanya benar jika Vaclav Havel berpandangan kaum intelektual itu merupakan hati nurani bangsa. Maka, bisa dikatakan demo mahasiswa yang menentang kenaikan harga BBM merupakan pengejewantahan nurani bangsa. Pendemo itu tahu memilih yang benar. Bahwa membela penderitaan rakyat adalah tindakan yang benar. Pendemo tahu —berdasarkan pengalaman sebelumnya— rakyat senantiasa menderita akibat kenaikan harga BBM.

Persoalannya kini, apa pasal Menteri Nuh sampai mengeluarkan pernyataan itu? Tafsir yang kemudian muncul adalah Mendikbud bisa jadi melihat bentuk demo terkait BBM yang belakangan terjadi selalu diwarnai kekerasan berbuntut ricuh. Di sinilah ada bias intelektualitas dimaksud. Demonstran sejati sudah barang tentu tak mau diperbudak nafsu kekerasan. Demonstran sejati menjunjung tinggi kesakralan intelektualitas, dan pada akhirnya mampu mengukur sejauh mana menggunakan kebebasannya.

Albert Camus (1974) pernah mengingatkan tak seorang pun berhak atas kebebasan mutlak. Kebebasan itu ada batasnya. Kebebasan seseorang telah melewati batas, alias kebablasan, ketika mulai merambah kebebasan orang lain. Boleh apa pun, menurut seseorang merupakan representasi kebebasan. Tetapi kalau itu merambah kebebasan orang lain, seumpama mengganggu kepentingan orang lain maka bukanlah kebebasan. Di sinilah sebagian pendemo belum menyadarinya.

Celakanya, banyak pendemo membangun batas tipis antara kebebasan dan ketakberadaban. Mereka tengah mempermainkan arti deskriptif dari kebebasan dan lebih menikmati arti emosionalnya sehingga tak menyadari telah melahirkan krisis kebebasan. Orang bijak sering mengingatkan bahwa kebebasan mutlak bukanlah pengukur keluhuran manusia. Kebebasan bagi manusia luhur adalah yang memberikan makna keberadaan kita sebagai manusia, kebebasan sebagai kesempurnaan eksistensi.

Apakah demo BBM telah memenuhi kaidah kebebasan sejati? Jawabannya bisa diberikan melalui ilustrasi berikut. Ketika ada demo BBM, pengunjuk rasa membakar ban di tengah jalan sehingga pemakai jalan lain terganggu. Adakalanya pemakai jalan terpaksa memutar atau berbalik arah. Dalam hal ini pendemo merasa bebas saja membakar ban di tengah jalan tetapi pemakai jalan lain menjadi tidak bebas menggunakan fasilitas umum itu. Kebebasan pendemo itu telah merambah kebebasan pemakai jalan. Artinya, pendemo salah menafsirkan makna kebebasan.

Manakala demo BBM menyalahi makna kebebasan sejati, saat itulah demo dianggap mengingkari fungsi intelektual. Wajar jika kemudian M Nuh merasa perlu mengimbau untuk kembali pada intelektualitas mahasiswa. Memang demo tak perlu berbuat kekerasan. Ketika demo itu diwarnai kekerasan, apalagi berujung ricuh, tentu menjadi pertanyaan lain: inikah demokrasi? Mereka yang salah dalam demo BBM merasa sudah menemukan demokrasi. Padahal kalau mau dikatakan demokrasi, sebenarnya hanya demokrasi yang terdistorsikan. Ada sesat pikir atas mempraktikkan kebebasan

Kamis, 15 Maret 2012

Haryati Disiksa Majikan Hingga Buta


Kisah PRT Indonesia di Arabsaudi

Haryatin, 34  tahun, Mantan Pekerja rumah tangga di Arabsaudi tak mampu menahan air mata dan emosi saat menceritakan kisah hidupnya dalam acara launching gerakan rakyat untuk penghapusan kekerasan negara terhadap perempuan di gedung teater Salihara, jakarta (8/3)

Haryatin, berkisah di gedung teater Salihara, jakarta (8/3)
Haryatin, perempuan Asal Blitar Jawa Timur.ini malam itu cukup mengugah emosi dan menjadi pusat perhatian ratusan perempuan dan pekerja sosial anti kekerasan. Ia menceritakan kisahnya yang sangat memilukan. Sejak 12 desember 2006, Ia bekerja di Riyadh arabsaudi melalui PT Kemuning Bunga Sejati. Ia menyebutkan nama majikannya adalah Haya Mubarok Said Ausry, namun sayang Haryati disuruh bekerja sebagai Pembantu rumah Tangga di rumah anak majikannya, Fatma yang memiliki 10 orang anak.

Di rumah Fatma, Haryati bekerja 24 jam nonstop, kalaupun sempat beristrahat ia hanya bisa tidur 2 jam dan harus kembali bangaun pada jam 4 dini hari dan langsng mengerjakan pekerjaan seperti memasak, mencuci, menyetrika, membersihkan dinding, membersihkan lantai, mencucikan semua pakian, membuat susu anak anak fatma majikannya, melayani kebutuhan makan dan pekerjaan rumah tangga lainnya hingga larut malam.


Haryati menuturkan satu bulan bekerja, Ia mulai mengalami kekerasan dari majikannya, rambut Haryati dijambak, kepala dan pungungnya dicambuk dengan mengunakan selang air hingga kepalanya berlumuran darah serta benjol, pungungnya memar memar. “kata majikan saya disksa karena tidak dapat bekerja dengan baik, padahal semua pekerjan saya selalu lancar” kata Haryati dengan isakan.

Tidak tahan diperlakukan sewena wena, Haryati melarikan diri dari rumah yang memperjakanya sebagai pembantu rumah tangga itu. Namun sayang Fatma sang majikan kembali menjemputnya dan tragedi penganiayaanpun semakin sering terjadi dengan sasaran kepala, dan alat fitalnya.

Haryati mengungkapkan, Ia bertahan selama 7 bulan dalam suasana kerja yang tidak manusiawi itu, ia berusaha untuk melarikan diri melompat melalui lantai dua  melalui bak penampung air, tapi terjatuh dan pingsan di kebun tetangga majikannya dan tidak makan dan minum selama 3 hari. Stelah ditemukan oleh tetangganya, Haryati dikemalikan lagi ke majikannya.    

Tragedi kekerasan yang dialami Haryatipun bertambah parah. Ia engatakan saat itu ia disekap di kamar mandi tanpa tanpa makan dan minum. “Kepala saya dibenturkan ke dindng, ditendang, dipukul dengan kabel listrik, muka saya ditampar dengan rotan hingga saya terjatuh, saat terjatuh saya terus diijak injak, hingga mata saya menjadi buta” kisahnya

Haryati mengaku perna menghubunggi keluarganya dan menceritakan kejadian yang menimpahnya dan minta untuk dipulangkan. “Setelah 31 bulan dengan bantuan LSM, saya berhasil lolos dari penyiksaan itu” tuturnya.

Haryati mengatakan, Ia tiba di Indonesia pada 4 agustus 2010 dibandara Juanda surabaya. “sesampai di Indonesia saya berusaha mencari keadilan, saya ke Kementerian tenaga kerja, ke DPR namun hinga kini belum ada keadilan itu. kemana lagi harus saya mencari keadilan, padahal saya ini juga warga negara Indonesia, kenapa tidak ada yang peduli dengan situasi yang saya alami” keluhnya

Hingga kini keluarga Haryati terus memperjuangkan keadilan atas penyiksaan yang dialaminya selama 31 bulan di arabsaudi dan mencari bantuan berbagai pihak untuk menyembuhkan matanya yang kini buta. Dengan suaranya paraunya Haryati meminta pemerintah agar melindunggi bruh migran Indonesia, agar tidak mengalami nasib yang sama seperti dirinya.