Headline

1.341 Pejabat Publik Daerah Terlibat Korupsi * Bruder "Preman" Pontianak * Petani Kopi Bajawa Kesulitan Modal * Coffee Manggarai: Black Gold * Tradisi “Suap” dan "memburu" proyek * Kota Labuan Bajo Terus Berkembang *

Kamis, 01 Desember 2011

Single Parent Berjiwa Ibu dan Ayah


Guru Agama katolik saya di SD pernah mengajarkan kehidupan sebuah keluarga, Kami (Murid-red) diajarkan bagaimana menghargai orang tua serta berperan dalam sebuah dinamika keluarga. Guru saya itu juga menjelaskan soal keluarga inti yang merupakan struktur organisasi yang terkecil dalam masyarakat, meliputi ayah, ibu, dan anak. Lalu bagaimana dengan “single parent”?, Sepengal kisah Caca mengantarkan saya menemukan jawabannya.

Illustrasi
Caca adalah seorang perempuan Florez, berwajah kas Flores yang tentu saja manis. Ia lahir di awal 80-an dalam sebuah keluar sederhana. Di akhir tahun 90-an iapun hijarah ke Bali untuk mencari kerja. Bali adalah dunia baru baginya, banyak hal yang mesti dipelajari, mulai dari cara berbahasa hingga memahami budaya masayarakat setempat.

Suatu hari hari Caca berkenalan dengan seorang laki laki sebut saja namanya Kristian. Kristian adalah seorang Mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Bali. Caca mengakui bahwa kristian sangat mencintainya, perhatian kristian membuatnya jatuh hati dan sangat menyayanggi Kristian. Merekapun menjalani hubungan sebagai pasangan kekasih. Baik Caca maupun Kristian merasa bahagian dengan hubungan keduanya. Namu tantangan kemudian datang ketika kedua orang tua Kristian mengetahui hubungan anaknya berstatus mahasiwa itu. Orang tua Kristian menentang hubungan tersebut hanya karena Caca tidak berstatus mahasiswa. “orang tuannya malu anaknya berpacaran dengan saya yang tidak kuliah” tutur Caca khas flores


Rasa takut kemudian dialami Caca, ia takut ditinggalkan Kristian. Caca kemudian memutuskan untuk kuliah, Caca ingin menunjukan bahwa dirinya juga bisa kuliah dengan biaya sendiri. Setiap hari Caca menjalani dua aktifitas kuliah dan kerja, ia menjalani keduanya dengan sunguh sunguh. Memasuki semester tiga Caca hamil. Beberapa kali ia minta dinikahi namun sang pacar kehilangan ketegasan. Orang tua Kristian bersikap aciuh dengan kondisi Caca. Semangat Caca tak lekas redup, dengan kondisi hamil ia terus kuliah dan kerja. Hingga Ia melahirkan, Kristian masih tak bisa memberikan jawaban pasti menikahi Caca. Rasa kecewa terhadap Kristian mulai tumbuh

Caca kemudian berhasil mendapatkan gelar sarjana, lebih dulu di wisuda dari kristian. Tak berapa lama berselang Caca berkerja disebuah Hotel dan menduduki posisi penting. Saat itulah ia menentukan pilihan meninggalkan Kristian. Pilihan ini terpaksa diambilnya karena sikap ketidaktegasan Kristian.

Kini Caca memiliki sebuah perusahaan perjalanan wisata, sebuah perusahaan miliknya hasil dari jeripayah bertahun tahun. Ia bahagia dengan kondisinya saat ini bersama anaknya. Status Caca sebagai Singla Parent membawa banyak sinis, sindiran dari lingkungannya, tak dihiraukan ia tetap fokus pada pekerjaannya.

***
Kisah Caca diatas membuat saya lebih dalam memahami apa itu Single Parent, bagaimana perasaannya, tekanan lingkungan sosial. Caca sebagai Single Parent merupakan fenomena yang terjadi di beberapa kota besar, yang menghasilkan pandangan baru dalam sebuah struktur keluarga.

Meluasnya fenomena menjadi orangtua tunggal, maka semakin banyak  pulalah deskripsi definisi dari single parent itu sendiri. Menurut Gunawan (2006) single parent adalah orang yang melakukan tugas sebagai orang tua (ayah atau ibu) seorang diri, karena kehilangan/ terpisah dengan pasangannya. Sementara menurut Sager (dalam Duval & Miller,1985) single parent adalah orang tua yang memelihara dan membesarkan anak- anaknya tanpa kehadiran dan dukungan dari pasangannya.

Pada umumnya Single parent sendiri disebabkan dua hal, diinginkan (sengaja) dan tidak diinginkan (tragedi). Kisah Caca menunjukan pada umumnya persektif masyarakat terhadap single parent, yang hanya mengukur dari suatu status. Padahal masing-masing berbeda. Dalam kondisi yang disengaja, biasanya dianut oleh kaum feminist yang menginginkan kebebasan dalam menentukan komposisi suatu keluarga.

Menurut saya kaum feminist cenderung untuk mendobrak tatanan keluarga karena dianggap sebagai pengukungan kebebasan berdasarkan jenis kelamin. Dalam kondisi seperti ini biasanya wanita sudah mempersiapkan dirinya secara matang. Mereka lebih mandiri dalam segi finansial dan memiliki prinsip yang dipegang dalam menjalani kehidupannya sebagai single parent.

Bagi saya menjadi single parent juga terkadang suatu pilihan yang memang sebenarnya tidak diinginkan. Kondisi menjadi lebih sulit ketika dilanda masalah pergolakan perasaan, kesiapan ekonomi untuk keluarga kecilnya, dan bagaimana menghadapi permasalahan-permasalahan dalam sosial masyarakat.
 
Wanita single parent harus pandai membagi waktu, melengkapi statusnya sebagai ayah dan ibu sekaligus. Perannya sebagai ayah, sebagai pemimpin keluarga kecil yang dimilikinya. Kemandirian dalam mengambil keputusan dan membuat kebijakan secara mandiri untuk keluarga kecilnya. Selain itu harus menafkahi kebutuhan hidup dalam keluarganya.

Perannya sebagai ibu yaitu menjalankan kodratnya sebagai perempuan, meliputi mengasuh dan membesarkan anaknya, serta hal-hal yang ada dalam rumah. Walaupun dalam kondisi bekerja, tetap harus memonitor apa yang terjadi di dalam rumah. Mempersiapkan kemandirian untuk mental si anak juga sangat perlu. Kasih sayang adalah kunci segala-galanya. Memberi pengertian kepada anak pelan-pelan dengan menyesuaikan usianya. Tidak bisa dihindari, anak akan mengalami dampak psikologis yang akan memengaruhi terhadap perilakunya di rumah, sekolah, dan masyarakat. Menumbuhkan kepercayaan dirinya dan meningkatkan rasa nyaman merupakan tugas utama. Anak merupakan  skala prioritas, karena tanpa itu sia-sia semua karir dan peran yang dijalani akan sia-sia.

Oleh karena itu wanita single parent seringkali terlihat sangat keras. Proses kehidupan yang keras menjadikan pola pikir dan perilaku seperti itu. Pada titik tertentu, seringkali dihadapi kondisi “lelah” dan membutuhkan ruang untuk bernapas. Kodrat sebagai wanita memang tidak bisa dipisahkan. Kehilangan waktu bersama anak untuk bekerja merupakan salah satu dilematika yang dihadapi. Belum lagi kondisi psikologis sebagai akibat dari proses yang mendasari seorang wanita mendapat pilihan menjadi single parent. Perasaan yang meliputi rasa sedih atas kehilangan atau karena sakit hati. Single parent sesungguhnya hanya manusia biasa, yang rentan untuk mengalami sebuat depresi. Dukungan orang sekitar, yang bisa mengacu pada keluarga atau sosial sangat berarti.

Dukungan sosial bisa berupa dukungan emosional atau instrumental, seperti yang dikemukan oleh Sarason (1990). Dukungan emosional, ditandai dengan perhatian yang simpatik terhadap orang lain yang mengalami stres. Tujuannya adalah untuk mengurangi emosi negatif dan ketegangan yang dihasilkan. Dukungan instrumental, Dukungan instrumental, ditandai dengan bantuan yang lebih nyata atau berwujud. Misalnya, nasehat-nasehat membantu individu yang stres secara aktual mengubah lingkungan yang memicu stres. Misalnya, secara aktif menyelesaikan masalah atau mengubah persepsi terhadap sumber stress.

Kondisi sebagai single parent memang tidak semua bisa menghadapi, apalagi jika ditambah pandangan dan komentar miring sebagian masyarakat. Pengakuan dan penerimaan untuk struktur keluarga yang menganut pola single parent dari masyarakat juga merupakan faktor yang membantu mental bagi pelaku single parent. Penghormatan dengan cukup dengan mengahargai single parent sebagai seorang manusia atas segala perjuangan yang dihadapinya dan menerima struktur keluarga yang dianut oleh seorang wanita single parent (meliputi ibu dan anak). Tidak perlu sampai mengasihani secara berlebihan. Hal ini cenderung membuat lemah mental seorang single parent......

Maaff Caca saya dilanda rasa ngatuk yg akut sekrang semoga tulisan ini bermanfaat buatmu dan buat semua yg telah membacanya...Mari kita memberi apresiasi terhadap wanita single Parent, wanita terhebat.


 Sant. Calorus, 2 des 2011

Minggu, 27 November 2011


Misi Visi Kepala Daerah
Enak Didengar, Hambar dalam Realitas

Hari-hari ini rakyat Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) dibebani oleh aneka problem akut terkait rendahnya tingkat kesejahteraan ekonomi dan pemenuhan kebutuhan dasar sandang, pangan, papan, kesehatan, air bersih dan pendidikan. Aneka problem itu tampaknya belum mampu diurai dan jamin secara tuntas dalam kinerja Pemda Mabar selama ini.

Bupati Agustinus Ch Dula dan wakil Bupati Gaza Maximus
Parameter keberhasilan Pemda dalam menjalankan Otda adalah terjadinya perbaikan indek kemakmuran rakyat (human development Index-HDI) di daerah terkait dengan pemenuhan kebutuhan dasar tersebut bukan sebanyak mungkin Pemda menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Pada dasarnya HDI adalah satuan yang dikembangkan United Development Project (UNDP) guna mengukur kesuksesan pembangunan sauatu negara. Angka dalam HDI diolah berdasarkan tiga dimensi, yaitu panjangnya usia (logevity), pengetahuan (knowledge) dan standar hidup (standard of living) suatu bangsa. Secara teknis ketiganya dijabarkan dalam tiga indikator, yaitu (1) kesehatan, (2) pendidikan; (3) ekonomi.


Realitasnya, hari-hari ini kita tengah menyaksikan kebijakan Pemda yang belum mampu mengentaskan tiga indikator itu. Lihatlah, kehidupan rakyat kita tak beranjak dari kubangan kemiskinan, Sulitnya mengakses Air bersih, Fasilitas kesehatan belum optimal. Penyebab Buruknya Kinerja.

“Ukuran Kesejahteraan terdapat pada tiga Faktor penting, Pendidikan, kesehatan dan Pangan” Tegas Bupati Dula saat proses Pilkada Mabar 2010, dalam sebuah acara tatap muka dengan warga Wae Kesambi ds batu cermin Labuan bajo (Notulensi GustI Centre). Pernyataan ini sebatas lips servis, masih jauh dari realitas, tak perlu pada urusan besar, soal kebersihan saja, masih jauh dari harapan pubilk. Ini soal kesetiaan pada perkara kecil, karena dalam penyelesaian perkara kecil adalah titik harapan akan mampu pada perkara besar

Sementara kinerja Pemda boleh jadi amat bergantung pula pada kemampuan kepala daerah dalam mengimplementasikan program-program brilian yang diperlukan dan dirasakan publik secara langsung. 

Daerah sangat membutuhkan kepala daerah yang berkualitas tinggi, bervisi strategik dan mampu berpikir strategik, serta memiliki moral yang baik sehingga dapat mengelola pembangunan daerah dengan baik. Sangat disayangkan kalau Kepala daerah justru terjebak dalam misi visinya sendiri, semacam kehilangan roh orientasi dalam mewujudkan misi visi tersebut. Enak didengar, hampar dalam realitas

Persoalannya adalah ada kecenderungan kepala daerah yang dipilih langsung rakyat ini kehilangan konsentrasi menjalankan programnya penyebab utamanya adalah sistem pilkada langsung yang mensyaratkan calon diusung melalui satu pintu parpol berakibat pada mekanisme jual-beli kendaraan parpol dengan harga miliaran rupiah dan konsesi-konsesi ekonomi-politik tertentu antara kepala daerah terpilih dengan parpol pengusung. Karena itu kinerja kepala daerah terpilih energi dan pikirannya terkonsentrasi atau setidaknya terbagi untuk dapat memberi fasilitas khusus pada parpol pengusung, orang-orang dekat parpol dan sejumlah pihak yang berjasa dalam pilkada.

Korupsi yang melibatkan orang-orang dekat parpol dengan bupati terjadi. Tak heran jika tender-tender besar proyek infrastruktur Pemda dipilih dan dimenangkan oleh perusahan-perusahaan swasta milik elite politik lokal mulai dari pengurus parpol, anggota dan ketua DPRD, kerabat ketua DPRD dan para kerabat dan orang-orang Bupati dan wakil Bupati (adik, ipar, Keponakan dll)

Dari pola ini maka kelak muncullah kelompok-kelompok pengusaha lokal yang layak disebut pengusaha klien (client businessmen) yang merupakan lawan dari pengusaha yang kompetitif dan otonom, bebas dari pengaruh kekuasaan politik dan pemerintah

Tradisi “Suap” dan "memburu" proyek

Ketika membuat SIM, apakah kita hanya membayar sesuai aturan? Ketika pengusaha properti ingin mendapatkan IMB, apakah dia hanya membayar sesuai aturan? Ketika kontraktor ingin mendapatkan proyek, apakah dia tidak mengeluarkan uang untuk pemegang proyek?

Jawaban atas beberapa pertanyaan itu hampir pasti: tidak. Setiap kita mengurus berbagai kepentingan yang berhubungan dengan aparat pemerintah, kita selalu mengeluarkan uang ekstra. Mungkin ada instansi atau daerah yang sudah steril dari hal seperti itu, tapi jumlahnya masih sangat kecil.


Memberi uang yang tidak semestinya seperti itu tampaknya sudah menjadi budaya. Begitu pula dalam urusan bisnis. Budaya suap menyuap, sogok menyogok, atau apa pun istilahnya sudah begitu melekat dalam kehidupan kita. Tak ada suap, urusan akan terbengkalai. Tak ada suap, proyek menguap.


Seberapa parah Indonesia dalam masalah suap ini? Transparansi Internasional (TI) baru saja melakukan survei tentang kecenderungan pebisnis melakukan penyuapan. Survei dilakukan terhadap 3.016 eksekutif bisnis di 28 negara. Dengan disodori skor berskala 0-10, para eksekutif itu memberi skor pada masing-masing negara. Angka 0 berarti budaya suap sudah parah, sedangkan 10 nyaris tak ada suap.


Hasil survei ternyata menempatkan Indonesia dalam empat besar peringkat terburuk, yakni di urutan ke-25, berikutnya adalah Meksiko, Ci na, dan terakhir Rusia. Indonesia memperoleh skor 7,1, lebih rendah dari skor rata-rata yang 7,8. Sementara negara yang memiliki skor tinggi, urutan pertama Belanda, diikuti Swiss, Belgia, Jerman, dan Jepang.


Lalu Bagaimana dengan Manggarai Barat??


Praktik penyuapan dilakukan dalam berbagai modus, seperti suap untuk memenangi tender proyek, untuk menghindari regulasi, untuk mempercepat urusan, atau untuk memengaruhi kebijakan. Ada yang mengunakan jalur kedekatan dengan penguasa (mantan TIM Sukses Pilkada), ada juga yang mengunakan kekuatan Sawerr ke pengambil kebijakan, tergantung jalur mana yang paling berpeluang.


Tak kasat Mata, tapi bukan rahasia untuk kalangan kontraktor, ada upeti yang harus disetor untuk memuluskan urusan. Besarnya upeti terkadang tergantung dari besarnya nilai proyek yang ingin di kerjakan. Kenyataan yang tak terbantahkan bahwa praktik penyuapan masih begitu membudaya.


Upeti sebagian dibayar dimuka, saat pejabat mengikuti proses PILKADA. Besarnya upeti untuk dana politik sang calon akan mempengaruhi besarnya nilai proyek sebagai kompesasinya. Dimanggarai barat para penyetor Upeti menjarah proyek proyek pemerintah. Aturan transparansi, bersih dan bebas KKN menjadi kicauan tak berarti. 

Belakangan muncul berbagai "kicauan" hubungan Bupati, Agustinus Christoforus Dula dengan wakilnya Gaza Maksimus retak termasuk "gerbong" lantaran pembagian jatah proyek. Muncul  saling tuding anatara "gerbong".

Tidak hanya itu, keluarga orang nomor satu dan nomor dua manggarai barat ini tak tinggal diam. mereka ikut memburuh proyek yang ada setiap tahun anggarannnya. Mulai dari adik, adik ipar, menantu hingga kerabat jauh. Bermodalkan hubungan keluarga dengan sang bupati/wakil bupati orang orang brengsek ini menjarah proyek proyek yang ada di setiap SKPD.



Benarkan Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch Dula memiliki kemampuan mewujudkan birokrasi yang bersih seperti yang perna dikumandangkan sebelumnya.

Kamis, 24 November 2011

Kemegahan Pernikahan Anak Sang "Prabu", Ironi Bagi Rakyat Miskin

Warga sekitar Cipanas menyaksikan Pernikahan Ibas-Aliya, melalui Layar Lebar
Penggunaan Istana Cipanas sebagai tempat pernikahan putra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Edhie Baskoro Yudhoyono dan putri Hatta Rajasa, Siti Rubi Aliya Rajasa bagi saya sesuatu yang berlebihan bagi pejabat Negara.
Sebelum Ibas nikah, kakaknya juga nikah di Istana Bogor, penggunaan istana untuk kepentingan non dinas dianggap tak wajar, tetapi ada tradisi baru setelah Suharto tahun 1980 merayakan ulang tahunnya di Istana Cipanas.

Apa yang dilakukan Presiden SBY sudah memperlihatkan keagungan. Presiden SBY , seolah telah menjadi seorang raja di sebuah kerajaan yang bernama Indonesia.

SBY jadi prabu dari sebuah kerajaan Indonesia, bagi saya untuk menilai pesta ini apakah layak, intinya sikap SBY harus bisa jaga kehormatan sebagai pemimpin, saat ini sudah jauh dari seorang negarawan.

Semestinya Presiden SBY bisa menjadi teladan untuk memisahkan ruang privat dan publik. Dengan sudah menggelar pernikahan di istana terhadap kedua putranya, Presiden SBY dinilai telah melakukan privatisasi negara. Harusnya di masa–masa tengah gencar pisahkan ranah privat dan publik, SBY harus menjadi teladan, tetapi saat ini justru ia tak memiliki roso risih diantara rakyat Indonesia.

Apalagi,  Asian Development Bank (ADB) di akhir Oktober 2011 telah mengumumkan pertambahan angka kemiskinan di Indonesia mencapai 2,7 juta. Sementara presidennya justru menunjukkan sebagai orang yang super kaya.

Struktur kenegaraan tak bisa dipisahkan dari kepentingan pribadi, seolah negara adalah saya (Presiden SBY). Disaat ADB mengumumkan kemiskinan tantangan bagi pemerintah Indonesia, namun pernikahan ini justru menjadi hiburan ironis di tengah kemiskinan rakyat.

Inilah.com menyebutkan Pernikahan Anak SBY dan Hatta ini menghabiskan dana yang ditaksir hingga Rp40 miliar. Sunguh sebuah  Royal Wedding.

Selain itu, Sejumlah sekolah dasar di seputaran Istana Cipanas diliburkan. Sebuah Stasiun TV Nasional menyebutkan kebijakan meliburkan sekolah agar tidak menganggu proses pernikahan anak ungsu sang presiden. Kondisi yang sama juga terjadi di Gedung DPR RI, sejumlah rapat penting gagal dilakukan, dikabarkan banyak wakil rakyat dan pejabat mengikuti proses pernikahan anak sang "Prabu". Sunguh sebuah sikap yang buruk, pejabat banyak melalaikan tugas demi kepentingan pribadi sang presiden. 

Koalisi Cinta Berbuah Politis 

Pernikahan Ibas-Aliya juga merupakan koalisi cinta yang berbuah politik. Wajar saja kalau nantinya pernikahaan tesebut berekses politik. Orang tua keduanya merupakan pejabat penting, Partai Demokrat dan PAN. Bahkan ada pengamat yang berani memprediksi bahwa calon presiden dari Partai Demokrat pada Pilpres 2014 adalah Hatta Rajasa.