Headline

1.341 Pejabat Publik Daerah Terlibat Korupsi * Bruder "Preman" Pontianak * Petani Kopi Bajawa Kesulitan Modal * Coffee Manggarai: Black Gold * Tradisi “Suap” dan "memburu" proyek * Kota Labuan Bajo Terus Berkembang *

Rabu, 01 Februari 2012

Pilot yang Salah Pesawat



Sri Palupi
Para pembantu Presiden SBY menepis tudingan bahwa Indonesia dijalankan dengan otopilot. Bahkan, Menko Perekonomian Hatta Rajasa memuji SBY sebagai pilot andal.
Alasannya, di tangan SBY, pertumbuhan produk domestik bruto 6,5 persen, peringkat utang meningkat, dan status layak investasi yang diberikan lembaga pemeringkat internasional.
Tak ada yang salah dengan pu- jian bahwa SBY pilot andal. Hanya saja, para pemuji SBY tutup mata terhadap kenyataan bahwa sebagai pilot, SBY salah masuk pesawat. Bukan pesawat RI yang ia terbangkan, melainkan pesawat asing yang memuat investor asing, komprador, koruptor, dan kalangan yang diuntungkan kebijakan promodal asing. Rakyat tertinggal di pesawat tanpa pilot, terombang-ambing di tengah badai korupsi dan investasi.
Pesawat asing
Pemerintahan SBY dikenal paling ramah melayani kepentingan asing. Tak heran, banyak pujian dari asing. Bahkan, demi mencapai target investasi, SBY rela mengorbankan kepentingan hajat hidup rakyat. Target investasi yang dibuat pemerintahan SBY Rp 3.100 triliun sampai 2014. Investasinya belum mencapai Rp 1.000 triliun, 75 persen sumber daya alam kita sudah dikuasai asing. Saham-saham penting milik negara sudah beralih kepemilikan ke korporasi asing.
Kepenguasaan asing di pertambangan emas, perak, dan tembaga mencapai 90 persen. Sektor energi 90 persen dikuasai asing. Perbankan nasional juga jatuh ke tangan asing. Sektor telekomunikasi yang strategis, 90 persen dikuasai asing.

Rantai pangan Indonesia tak terlepas dari penguasaan asing. Aliansi untuk Desa Sejahtera mencatat, korporasi asing telah mengontrol perdagangan pangan Indonesia. Syn- genta, Monsanto, Dupont, dan Bayer menguasai bibit dan agro- kimia. Cargill, Bunge, Louis Dreyfus, dan ADM merajai pangan serat, perdagangan, dan pengolahan bahan mentah. Nestle, Kraft Food, Unilever, dan Pepsi Co mencengkeram pengolahan pangan dan minuman. Carrefour, Wal Mart, Metro, dan Tesco jadi penguasa pasar eceran pangan.
Produk petani dan industri dalam negeri tergusur produk impor. Pasar tradisional terdesak mal dan pusat belanja modern. Pedagang kecil kehilangan sumber hidup. Bahan baku industri yang berlimpah lebih banyak dinikmati asing. Negeri ini hanya jadi pasar barang industri bangsa lain sekaligus pemasok bahan baku industri negara lain. Penguasaan aset negara oleh asing dibuat mulus dengan banyaknya UU pro-kepentingan asing.
Amat banyak UU dibuat dengan mengabaikan amanat konstitusi. Setidaknya 76 UU penting terkait hajat hidup rakyat dibuat dengan intervensi asing. Sebagai bangsa, praktis kita sudah kehilangan kedaulatan. Tak hanya atas bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Dalam berpikir dan menentukan masa depan sendiri pun, kita sudah defisit kedaulatan. Pertumbuhan ekonomi tinggi, peringkat utang meningkat, dan status layak investasi kebanggaan pemerintahan SBY tak sebanding dengan risiko dan harga yang harus dibayar bangsa ini.
Saat pemerintah membanggakan pertumbuhan ekonomi tinggi dan berbagai pujian pihak asing, saat itu pemerintah meningkatkan target pengiriman TKI ke luar negeri dan mengampanyekan program perluasan negara tujuan TKI. Lalu, untuk siapa pertumbuhan ekonomi tinggi dan derasnya arus investasi kalau rakyat terus didorong menjadi budak bangsa lain?
Pesawat otopilot
Sepanjang sejarah Republik, belum pernah rakyat ditelantarkan negara seperti sekarang. Warga mencuri sandal jepit, pisang, semangka, dan biji kakao hanya sedikit gambaran betapa buruk tingkat kesejahteraan. Jangankan sejahtera, jaminan rasa aman pun kian sulit didapat. Pembunuhan, perampokan, penculikan, pelecehan, dan perkosaan di tempat umum kian marak. Kekerasan atas nama agama dan keyakinan terus dibiarkan. Aparat negara sibuk menggendutkan rekening sendiri.
Yang disebut sebagai pembangunan kini tak lebih dari urusan memfasilitasi dan mendorong kalangan berduit gila berbelanja. Daerah sentra industri berubah wajah jadi daerah wisata belanja, dipadati dengan pusat belanja dan factory outlet yang memasarkan produk impor. Kawasan industri dan sentra industri kecil sepi. Pabrik-pabrik tutup.
Deindustrialisasi memaksa rakyat berjuang menciptakan lapangan kerja sendiri. Hampir 70 persen tenaga kerja di sektor informal. Buruh dipaksa menerima upah yang bahkan tak cukup untuk makan layak tiga kali sehari.
Arus deras investasi yang dibanggakan pemerintahan SBY kian merampas hak hidup rakyat. Yang terjadi di Mesuji dan Bima hanya puncak gunung es konflik agraria yang tak pernah diselesaikan. Konsorsium Pembaruan Agraria mencatat: konflik agraria meningkat tajam dari 106 kasus (2010) menjadi 163 kasus (2011), melibatkan 69.975 keluarga dengan luas areal konflik 472.048,44 hektar. Petani tewas meningkat dari 3 orang (2010) jadi 22 orang (2011). Ironis bahwa tanah, hutan, dan kekayaan alam diserahkan kepada pihak asing, sementara rakyat yang hanya mempertahankan sejengkal lahan dipaksa meregang nyawa.
Program memperbanyak pengiriman TKI yang dijalankan pemerintahan SBY sesungguhnya upaya menutupi kegagalan pemerintah membangun sektor pendidikan, pertanian, dan industri. Warga didorong bekerja di luar negeri: mayoritas pendidikan mereka SMP ke bawah.
Sementara itu, kapasitas dan integritas pemerintah dalam melindungi TKI sangat rendah. Pada 2011, misalnya, dari 16.014 TKI berkasus, 72,3 persen pulang dengan masa kerja kurang dari enam bulan. Mereka dipulangkan karena kurang terampil dan tak lolos tes kesehatan. Bahkan, pemerintah membiarkan perempuan hamil dipaksa berangkat. Pada tahun sama, sedikitnya 49.000 TKI diberangkatkan tanpa asuransi. Padahal, TKI dibebani biaya sampai Rp 25 juta, termasuk untuk asuransi.
Kalau saja pilotnya andal, ko- rupsi bisa diberantas ke akar: anggaran dan kekayaan alam benar-benar dikelola demi kemakmuran rakyat dan kita tak perlu lagi mengemis pekerjaan dari bangsa lain. Oh, pilot andal untuk rakyat baru sebatas doa....
Sri Palupi Ketua Institute for Ecosoc Rights
Opini Kompas, 02 Febuari 2012

Selasa, 24 Januari 2012

Reformasi Birokrasi, Terjebak dalam Bingkai Politik


Masih segar dlm ingatan kita, awal September 2011 lalu Pemerintah canangkan moratorium penerimaan PNS untuk 16 bulan ke depan. Beban anggaran untuk belanja pegawai yang terlalu besar yakni hampir seperenam atau sepertujuh RAPBN 2012, jadi pangkal utama ditempuhnya kebijakan ini.

Sepasang PNS ditangkap Sat Pol PP di Maal, membolos
Tragis lagi, 125 daerah memiliki beban belanja lebih dari 60 persen APBD-nya. Akibatnya, pembangunan infrastruktur jalan di tempat.  Namun timbul pertanyaan, apa benar dengan dipotongnya anggaran untuk birokrasi yang jumlahnya 4,7 juta PNS, moratorium itu sendiri lantas memberi jalan mulusnya reformasi birokrasi.

Di banyak tempat, terbukti statitiska tak berjalan linear dengan etos dan prestasi kerja. Yang  mengemuka, birokrasi kerap malfungsi dalam mengabdi masyarakat karena ia menjadi bagian dari mesin korupsi.

Birokrasi makin miskin kinerja, selain didera korupsi juga disandera fragmentasi para politisi. Netralitas pegawai negeri makin langka menjelang pilkada dan independensinya makin diragukan saat tunduk
dalam neopatrimonial pejabat daerah bersangkutan.

Neopatrimonial karena sejak itu terjadi balas budi untuk birokrasi pendukung kepala daerah dan sangsi mutasi bagi pihak yang kontra dengan pejabat berkuasa.

Pemerintah pusat sendiri memberi contoh yang mudah ditiru oleh pemerintahan di level bawah. Jumlah kementerian yang terlalu banyak, lalu komisi, lembaga atau satgas baru yang dibentuk mengindikasikan  politik akomodasi lebih utama dibanding agenda reformasi birokrasi.

Permasalahan birokrasi yang rumit dan dipolitisasi ini sedikit banyak membuat proses rekrutmen, pembinaan dan karir pegawai negeri tak pernah sampai pada sebuah strategi besar reformasi birokrasi.


4,7 PNS sebenarnya jumlah yang sangat kecil untuk ukuran Indonesia, tapi bias jadi ini hanya statistika belaka, realitanya angka  berbeda dengan etos kerja, korupsi membuat birokrasi malfungsi, jadikan aparat hanya mau bekerja demi materi, jadilah ekonomi biaya tinggi,  dibalik pengurusan KTP, retribusi sampai rekanan dan politisi.

Sejak dulu kita dengar cerita pilu yang seolah baru tentang pagewai negeri yang mudah di tunggangi, kehilangan independen karena jabatannya takut digeser oleh politisi. Demokrasi dilengkapi oleh tragedi dengan agenda pemerintah pusatnya sendiri yang gemar obral lembaga baru Satgas atau meritokrasi. Seharusnya Pemerintah jadi rambu birokrasi supaya jangan lagi ada Tanya siapa pengapdi dan siapa sesunguhnya harus dilayani


Cerita : ‘Katak Hendak Jadi Lembu'



‘Katak Hendak Jadi Lembu’ adalah sebuah cerita yang sangat sederhana tapi pesan moralnya begitu melekat. 

Ceritanya begini;

Suatu ketika di sebuah kandang lembu ada seekor katak batu yang rupanya rajin mengamati si lembu betina yang pendiam dari balik bongkahan batu. Setiap hari si katak melihat pemilik lembu selalu memberikan makanan rumput segar, memandikan, dan mengajaknya jalan ke padang rumput hijau nan luas.

Pada suatu kesempatan, katak batu itu mendekati si lembu betina yang sedang makan. Katanya dengan nada sinis, “Hai, lembu. Enak sekali hidupmu. Setiap hari kau selalu mendapat perhatian dari manusia dan juga selalu dikasih makan. Kau selalu dirawat dan diajak jalan-jalan di padang rumput hijau. Semua itu apa karena badanmu yang besar?”

Si lembu betina tak menjawab, ia terus makan dan makan. Sambil sesekali kepalanya menggeleng kiri kanan mengusir lalat-lalat yang mengerubungi makanannya. Karena si lembu betina tak juga menjawab, maka katak batu itu menghardiknya lagi. Kali ini dengan nada suara lebih keras lagi. “Hai…lembu dungu. Kalau hanya karena badanmu yang besar, kau mendapat perhatian manusia maka aku pun mampu menyamai besar tubuhmu. Nih…lihatlah!”

Si katak batu itu lalu segera memperagakan diri di hadapan lembu betina. Katak batu itu menggelembungkan badannya. Bermula dari perut, kemudian leher, kaki, dan seterusnya. Perut katak batu itu sedikit demi sedikit membesar, dan kemudian terlihat begitu besar. Namun setelah membesarkan perut dan leher, rupanya badannya tak juga bisa menyamai lembu. Si katak batu sangat penasaran, karena badannya belum juga mampu menyamai besarnya lembu itu. Perutnya terus digelembungkan lagi dan lagi… Akibatnya perut itu meletus. Isi perut berhamburan ke mana-mana. Si katak batu itu pun mati dengan kondisi yang sangat mengenaskan.

Melihat katak batu yang malang itu telah mati, si lembu betina pun tak mampu menahan kesedihan. Tapi ia juga tak bisa berbuat banyak. Si lembu betina itu tahu bahwa dirinya tak memiliki kuasa apa pun atas hidup.

***

Kata orang bijak, kerendahan hati adalah prinsip dasar orang beriman kepada Yang Maha Kuasa Sang Pencipta alam semesta. Dari kerendahan hati itulah munculnya ketulusan dan pengakuan diri, bahwa manusia hanyalah seonggok daging tak berdaya atau debu halus di hadapan Sang Khalik.

Sementara kesombongan adalah upaya penyangkalan diri manusia atas ketidakberdayaan raga dan spiritual di hadapan Yang Ilahi. Kesombongan menjadi semacam kompensasi psikologis untuk menutupi ketidakmampuan diri, yang kadang tersimpan dalam dunia alam bawah sadar. Kesombongan diri seseorang muncul, biasanya bertujuan agar diakui eksistensinya. Terutama di lingkungan sosialnya. Kesombongan dan keangkuhan merupakan saudara kembar.

Seorang psikolog terkenal asal Austria Alfred Adler (1870-1937) mengatakan, bahwa kesombongan itu pada dasarnya merupakan sikap mengutamakan diri sendiri. Adler menyebutnya sebagai self centered. Semuanya berpusat pada diri sendiri. Kalangan orang beriman alim ulama memposisikan egoisme sebagai awal dari dosa. Egosentrisme menjadi akar dari dosa. Manusia terjerumus ke dalam dunia hitam kelam karena terlalu mengagungkan ke-aku-annya. Aku merasa paling benar, paling bersih, paling hebat, paling suci, paling berkuasa, dan berbagai predikat superlatif lainnya. Peperangan, kerusuhan, kriminalitas, aniaya, dan kesengsaraan acapkali bermula dari sana.

Kerendahan hati dan kesombongan berjalan seiring dalam dunia yang sama, meski berbeda kharakter dan motivasi dasarnya. Tapi kadang, kesombongan bersembunyi di balik ‘kerendahan hati’ sehingga menjadi seolah-olah rendah hati. Padahal jauh di lubuk hati, ingin dipuji dan diakui ke-ego-annya. Sejatinya, kerendahan hati akan terus bertahan. Sementara kesombongan akan terkuak bersama perjalanan sang waktu.

Apa itu kerendahan hati dan mengapa manusia harus rendah hati? Mengapa orang tak boleh sombong?
Seorang guru kebijaksanaan yang juga seorang sufi dari timur menggambarkan kerendahan hati itu dalam simbol anak kecil. Anak adalah lambang ketulusan hati, ketidakberdayaan, dan kejujuran. Tingkat ketulusan, kepolosan anak kecil dan kejujurannya tak bisa disangkal lagi. Begitu tulus, jujur, dan bersihnya pribadi anak-anak, hingga para cerdik pandai menyebut anak-anak bagai tabularasa. Suatu lembar kertas putih bersih yang apa pun bisa ditorehkan di sana. Menurut sang guru, hanya manusia yang memiliki level kesucian, ketulusan, kepasrahan, dan kejujuran seperti anak kecil itulah yang pantas berhubungan dekat dan berada dalam pangkuan Sang Khalik.

Ketidakberdayaan anak kecil, kata sang guru, adalah lambang ketidakmampuan manusiawi yang akan malahirkan kepasrahan diri secara total tanpa syarat kepada Sang Pencipta. “Lihatlah, betapa anak kecil itu hidupnya sangat bergantung sepenuhnya pada orangtuanya, ibu dan ayahnya. Begitu pula seharusnya manusia di hadapan Sang Pencipta,” kata sang guru pada suatu kesempatan.

Menurut sang guru kebijaksanaan yang juga sufi itu, sebenarnya tak ada dasar dan alasan apa pun bagi manusia untuk menyombongkan diri. Fakta ilmiah menyatakan bahwa manusia adalah bagian kecil dari makhluk hidup yang ada di atas bumi. Hidup manusia berdampingan dengan makhluk hidup lainnya dan saling bergantung. Manusia tak mungkin hidup sendiri. Ketergantungan manusia sangat tinggi pada kehidupan lain di sekitarnya. Bumi tempat manusia hidup pun, jika dibandingkan dengan planet-planet lain dalam susunan tata surya, hanyalah bagian kecil dari semesta raya. “Jika bumi saja hanyalah bagian kecil atau bahkan hanya merupakan debu kosmis di alam semesta raya yang mahaluas, lalu bagaimana dengan manusia? Nah, sekarang bayangkanlah bagaimana agungnya Sang Pencipta alam semesta itu. Masihkah manusia bisa membusungkan dada tentang dirinya di hadapan Sang Pencipta?” kata sang guru.

Setiap saat manusia dalam berbagai kepercayaan dan keyakinannya yang amat beragam diberikan kesempatan untuk berintrospeksi, melalui bermacam-macam peristiwa dan acara keagamaan. Tujuannya refleksi diri ke dalam batin masing-masing. Masih pantaskah menyombongkan diri di hadapan orang lain dan terlebih-lebih di hadapan Yang Maha Kuasa? Mungkin ada baiknya, mulai detik ini kita mulai meneliti diri, apakah kita sudah rendah hati dan tidak sombong?

Gusti Dula Mengaku Selalu Dicecar Soal Air Bersih


Bupati Manggarai Barat Agustinus Ch Dula dalam serah terima jabatan Direktur PDAM Wae Mbeliling di Kantro Bupati mengaku Pemerintah daerah Manggarai Barat selama ini selalu mendapat sorotan, kritik, cercaan bahkan caci maki terkait penanganan air bersih kota Labuan Bajo yang hingga kini belum tutas. Tapi anehnya sekalipun merasa bersalah akan lambatnya penanganan persoalan air Gusti Dula sebagai Bupati tidak meminta maaf kepada masyarakat Manggarai Barat
 
Warga Kota Labuan Bajo terpaksa mengkonsumsi air got,
 setelah daerah tersebut dilanda krisis air bersih
 “Selama ini kita terus yang disorot, dikritik dan dicaci maki hanya air bersih ini. Program 100 hari air bersih sudah lewat tetapi belum membawah hasil. Dengan adanya Plt.Direktur PAM yang mulai kerja hari ini, bias menjawab masalah air bersih Labuan Bajo,”tandas Bupati Manggarai, Agustinus Ch Dula disela-sela acara serah terima jabatan Direktur PDAM Wae Mbeliling di Kantro Bupati belum lama ini.

Kini pemegang jabatan (Plt) Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) adalah putra Labuan bajo,  Naaman M.Jalesy.  Semenatara jabatan yang terus menuai kritikan ini sebelumnya ditangan Aleksander S.S.Kelang


Bupati Gusti Dula, mengakui belaangan masyarakat terus menyoroti pemerintah dan memberikan kritik serta pikiran posistif terkait persoalan proyek air bersih yang tak kunjung selesai. Dana selelu dicairkan setiap tahun untuk masalah ini tapi masyarakat terus berteriak sulit mengakses air bersih. Dula menegaskan masyarakat butuh sesuatu yang nyata dan itu harus dijawab oleh pemerintah. Pemerintah melalui unit teknis dan dinas yang ada harus memberikan bukti riil bahwa masyarakat tidak mengalami kesulitan lagi soal air bersih ini.

Dula berjanji pemerintah terus berupaya maksimal mengatasi masalah air bersih di Labuan Bajo ini. “Masyarakat Manggarai Barat merasa heran karena masalah air bersih ini sepertinya tidak bisa terpecahkan. Karena itu, unit teknis jangan membuat seakan-akan tidak terselesaikan. Padahal tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan, pasti ada jalan keluarnya. Semua pihak harus ambil bagian karena air bersih sangat penting untuk kebutuhan,”tandasnya.

Dana urus air 2012 senilai 3,1 Milliar

Pihaknya menjelaskan tahun 2012 pemerintah menganggarkan dana sebesar 3,1 milliar an diharapkan proyek air bersih secepatnya selesaikan. Dia mengatakan Master Plan Air Bersih sudah ada tinggal ditindaklanjuti dengan Desain Enginering Development sehingga bisa berhasil dengan baik. Kondisi yang dihadapi saat ini distribusi air yang belum betu, banyak kebocoran dimana-mana yang menyebabkan debit air kecil saat tiba ditangan pelanggan. “Saya ingatkan pejabat yang dipercaya mengurus air bersih ini harus merasa bertanggungjawab dan memiliki Manggarai Barat ini,”tandasnya

Plt Direktur PAM Wae Mbeliling, Naaman M.Jalesy mengatakan Setiap masalah yang dihadapi pasti ada solusi akhir. Yang pertama dilakukan menurut Jalesy dirinya  akan mengumpulkan data, fakta dan mencari masalah-maslah yang ada lalu merumuskan titik masalahnya dimana selanjutnya mencari jalan keluarnya. “Beri saya waktu, saya punya obsesi 2013 paling lama masalah air bersih Labuan Bajo teratasi,”janjinya