Headline

1.341 Pejabat Publik Daerah Terlibat Korupsi * Bruder "Preman" Pontianak * Petani Kopi Bajawa Kesulitan Modal * Coffee Manggarai: Black Gold * Tradisi “Suap” dan "memburu" proyek * Kota Labuan Bajo Terus Berkembang *

Selasa, 28 Mei 2013

Coffee Manggarai: Black Gold


Black Gold

From a very young age, children of the Manggarai tribe must not only learn to drink their homegrown coffee and love it (that comes pretty naturally), but also to weave the daily sight of – and interaction with – the coffee plant, with its budding flowers, its fleshy red cherries and especially its fragrant beans, into their narrative of reality. As I joked with the younger boys, two girls aged no more than 10 were gaily pounding pestles taller than themselves into a huge timber mortar, rhythmically, dexterously pulverizing the beans inside into rough powder.

“We do this sometimes once or twice a week, sometimes every other day,” the woman who’d served us the brew remarked. “Always plenty of beans for all of us!”

“From Komodo With Love”

Orang komodo percaya bahwa komodo adalah saudara kembar mereka. Itulah yang membuat orang asli komodo “suku bajau yang pertama kali menemukan pulau komodo” tidak pernah mau meninggalkan pulau tersebut sekalipun sudah ditetapkan sebagai kawasan konservasi/National Park karena adanya binatang purba varanus komodensis tersebut. Sekalipun sudah banyak kejadian binatang langka tersebut memangsa penduduk sekitar itu.Fantastisnya, mereka percaya bahwa binatang langka tersebut tidak pernah mencelakai suku asli, kalaupun yang celaka hanyalah orang keturunan atau bukan suku asli. 

Kota Labuan Bajo Terus Berkembang

LABUAN Bajo baru sembilan tahun berstatus sebagai ibu kota Kabupaten Manggarai Barat, terhitung sejak pemekaran dari induknya, Manggarai, tahun 2003. Namun, pertumbuhannya sangat fenomenal. Labuan Bajo kini menjadi satu-satunya kota kabupaten di NTT yang telah didukung hotel berbintang.


Jumat, 24 Mei 2013

World Statesman Award; Antara Ngotot dan Sadar Diri ala SBY

 
KONTROVERSI pemberian penghargaan kepada Presiden Yudhoyono semakin menunjukkan keganjilan. Semakin diamati, tampak semakin aneh dan semakin mengundang pertanyaan. Bisa dikatakan ganjil karena pertama, organisasi yang memberikan penghargaan tersebut the Appeal of Conscience Foundation, bukanlah sebuah organisasi ternama. Organisasi ini adalah sebuah organisasi kecil yang tidak jelas orientasinya. Dalam website-nya mereka mengklaim ingin menegakkan perdamaian dengan melibatkan tokoh-tokoh lintas agama dan tokoh-tokoh bisnis.

Organisasi ini memberikan penghargaan kepada tokoh bisnis dan tokoh politik. Ada tiga kepala negara yang diberi penghargaan, yaitu mantan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy, Kanselor Jerman Angela Merkel, dan PM Kanada Stephen Harper. Saya tidak tahu apakah ini kebetulan atau tidak, ketiga kepala negara penerima penghargaan ini berasal dari kalangan kanan-konservatif.

Pemberian penghargaan kepada tokoh-tokoh ini mungkin memperlihatkan kuatnya pengaruh Foundation ini, terutama pendirinya, Rabbi Arthur Schneier. Namun, tidak dengan serta merta menempatkan Foundation ini sebagai lembaga berwibawa, yang penghargaannya bisa dipergunakan oleh penerimanya untuk menyampaikan pesan yang ingin disampaikan oleh pemberinya. Misalnya, penerima Nobel Perdamaian jelas akan dihormati pendapatnya karena penerimanya itu membawa pesan dari Komite Nobel dalam hal perdamaian.