Headline

1.341 Pejabat Publik Daerah Terlibat Korupsi * Bruder "Preman" Pontianak * Petani Kopi Bajawa Kesulitan Modal * Coffee Manggarai: Black Gold * Tradisi “Suap” dan "memburu" proyek * Kota Labuan Bajo Terus Berkembang *

Minggu, 26 Februari 2012

"Tidur Pun Kami Digaji”

Membaca berita tentang kelaparan di NTT di tengah boomingkasus korupsi negara ini, mengingatkan saya pada kelakar warga miskin di NTT tentang berbagai bantuan yang mereka terima dari pemerintah. Salah satu kelakar yang menarik untuk disimak adalah ‘tidur pun kami digaji’.

Bisa saja kelakar seperti itu ditanggapi sekadar sebagai kelakar. Namun kelakar yang disampaikan dengan nada ironis dan satiris seperti itu sebenarnya adalah kritik tajam yang ditujukan pada kita semua. Disadari atau tidak, kita telah menghidupi sebuah sistem yang bernama ‘tidur pun kami digaji’. 

Anak-anak NTT terus diancam persoalan Gizi Buruk

Defisit Kepercayaan Diri
Penanggulangan kemiskinan selalu tertulis sebagai prioritas program pemerintah. Namun dalam praktiknya program penanggulangan kemiskinan cenderung lebih banyak berdimensi jangka pendek dan berkerangka emergency, seperti yang terjadi pada beras untuk rakyat miskin (raskin), bantuan langsung tunai (BLT), pemberian makanan tambahan (PMT), dan berbagai bantuan lainnya.

Beragam bantuan itu bisa jadi dimaksudkan untuk dapat membantu meningkatkan  produktivitas program pemberdayaan bagi kelompok miskin. Namun tidak seperti itu yang terjadi di lapangan. Beragam bantuan yang diberikan dengan mengabaikan sistem sosial ekonomi budaya lokal telah menciptakan kondisi ketergantungan di kalangan warga miskin, yang mengarah pada defisit kepercayaan diri untuk bisa keluar dari kondisi miskin. Kelakar ‘sawah kami di Jakarta’ adalah salah satu cerminnya. Ini bukan  sekadar kelakar karena yang terjadi di kabupaten Flores Timur, misalnya, bantuan dalam kerangka Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM) membuat petani mengurangi kerja kebun. 

Di beberapa kabupaten lain seperti Manggarai dan Sumba Timur, kucuran bantuan dalam kerangka PNPM melemahkan organisasi komunitas yg selama ini telah membuktikan diri mampu mengatasi masalah pangan dan gizi secara mandiri.  Studi tentang penanganan masalah gizi di sembilan kabupaten di NTT yang dilakukan Institute Ecosoc salah satunya menemukan berbagai bentuk kelakar yang substansinya adalah ‘tidur pun kami digaji’.
Karakter Sosial?
 “Tidur pun kami digaji” bukanlah monopoli kelompok miskin. Ada indikasi, defisit kepercayaan diri itu telah menjadi bagian dari karakter sosial masyarakat kita, terlebih elit politik. Posisi Indonesia sebagai negara terkorup di kawasan Asia Pasifik adalah salah satu indikasinya. Hanya dengan modal jabatan atau sedikit wewenang, birokrat dan pejabat bisa dengan mudah mendapatkan milyaran rupiah dalam tempo singkat. Lihat saja bagaimana seorang PNS bergolongan III A bisa menjadi makelar kasus dan meraup milyaran rupiah dengan begitu mudah. Akibatnya, setiap tahun tidak kurang dari 140 triliun uang pajak kita raib begitu saja.

Penghasilan dan kekayaan wakil rakyat pun bisa meningkat demikian cepat.  Padahal kinerja dan prestasi mereka belum bisa dikatakan pantas untuk mendapatkan lipatan kekayaan. Layakkah disebut ‘bekerja’ bila mayoritas produk kebijakan yang mereka hasilkan tidak berbicara soal kesejahteraan rakyat?. Padahal sangat besar kekuasaan mereka dalam sistem politik sekarang. Anggaran Rp 1,8 triliun untuk membangun gedung baru, misalnya, bisa dengan mudah mereka dapatkan di tengah kondisi rakyat yang kelaparan.

Kalaupun  tidak bisa disebut korupsi, fenomen peningkatan kekayaan pejabat  dan wakil rakyat tanpa didasari oleh peningkatan kinerja dalam memberi nilai tambah pada kesejahteraan rakyat sama artinya dengan ‘tidur pun kami digaji’. Sebab apa yang diklaim sebagai ‘bekerja’ tak lebih dari siasat untuk meningkatkan penghasilan  bagi diri sendiri, keluarga, kelompok atau pun partai. Padahal pekerjaan utama mereka sebagai pejabat publik adalah mewujudkan kesejahteraan rakyat.  

Demikian pula dengan para konglomerat, tidak terlepas dari fenomen ‘tidur pun kami digaji’. Mereka bisa meraup keuntungan berlipat dan bahkan menjadi orang terkaya, padahal kewajiban pajaknya bermasalah, upah buruhnya tak cukup untuk hidup, buminya dirusak, isinya dikeruk dan orang-orang terancam kehilangan hak hidupnya. Pantaskah konglomerat semacam ini mendapatkan keuntungan berlipat ketika yang mereka sebut ‘bekerja’ itu nyatanya tidak memberi nilai tambah pada kesejahteraan buruh, kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan daya dukung lingkungan?. Betapa mudahnya kita menyerap iklan ‘biarlah uang bekerja untuk kita’, tanpa menyadari bahwa dengan cara seperti itu kita telah menghidupi sistem ‘tidur pun kami digaji’.

Rapuhnya Generasi
Fenomen ‘tidur pun kami digaji’ tidaklah muncul secara kebetulan dari  tindakan orang per orang. Fenomen itu berakar pada sistem ekonomi politik kita yang tidak berorientasi pada kepentingan jangka panjang.  Betapapun pemerintah menjadikan penanggulangan kemiskinan sebagai prioritas, namun toh kebijakan pemerintah lebih banyak mengarah pada stabilisasi ekonomi makro, inflasi, nilai tukar, indeks harga saham, dan liberalisasi ekonomi, yang tidak berdampak signifikan pada pengembangan sektor riil, pengurangan pengangguran dan jumlah orang miskin. Yang terjadi, sistem ekonomi politik yang dijalankan pemerintah menciptakan dominasi kaum superkaya terhadap perekonomian Indonesia. Ini tercermin dari data penguasaan dana simpanan di bank. Dari sekitar Rp 1.380 triliun dana pihak ketiga di bank pada akhir Juli 2007, 80 persen dikuasai hanya oleh 1,82 persen pemegang rekening.

Sistem ekonomi politik kita pada kenyataannya dijiwai oleh semangat ‘tidur pun kami dibayar’. Kalangan atas diberi kemudahan dengan berbagai kebijakan, kelompok bawah ditenangkan dengan berbagai bantuan. Kondisi seperti ini saya kira tidak hanya akan berdampak pada kian lebarnya kesenjangan sosial tetapi lebih jauh lagi juga akan membentuk karakter anak-anak kita. Sebab sistem semacam itu akan  menjauhkan anak-anak kita dari semangat kerja keras, kreativitas, percaya diri dan daya juang dalam menanggapi tantangan.

Pernahkah kita bertanya soal tingginya kasus bunuh diri di kalangan remaja dan anak-anak, yang menggambarkan kerapuhan generasi sekarang dalam menghadapi tantangan? Lihatlah betapa mudahnya mereka memutuskan bunuh diri ketika gagal ujian nasional. Kita patut curiga, sistem ‘tidur pun kami digaji’ yang kita hidupi selama ini telah melahirkan generasi rentan dan miskin daya juang. 

Selasa, 21 Februari 2012

Kamu Tak Lebih Dari Debu

Sekarang ini anda mungkin melihat orang-orang dalam bus atau angkutan Kota, Kereta atau sedang menunggu di sebelah mesin fotocopy dengan tanda hitam di dahi mereka. Seperti melihat seseorang yang bermeditasi di terminal bandara atau ruang tunggu, anda mengenali mereka sebagai teman seperjalanan dalam perjalanan rohani, bukan hanya sekedar orang asing yang lewat di malam hari. Tanda tersebut bukanlah suatu tanda rahasia atau tanda kelompok khusus tetapi hanya sedikit saja orang yang memahaminya.
 
Kita menerima abu untuk mengingatkan kita supaya tidak membuang-buang waktu. “Ingatlah, engkau hanyalah debu dan akan kembali menjadi debu. Bertobatlah dan percayalah pada Injil.”
 
Kedengarannya memang aneh, kata-kata yang diucapkan saat abu diberikan tersebut memberi rasa lega dan harapan karena kata-kata tersebut mengingatkan kita akan suatu kebenaran yang begitu mudah dilupakan, kebenaran yang tidak enak untuk didengar oleh budaya penyangkalan kita. Kita banyak menelan gambaran kematian dan kekerasan sebagai hiburan tetapi hal yang nyata kita singkirkan seperti sampah. 
 
Tradisi spiritual mengajarkan kita bahwa kewaspadaan akan kematian meningkatkan kejelasan perbedaan hidup dan kemampuan kita untuk menghidupinya secara penuh. Debu di dahi mengingatkan kita bahwa satu-satunya jalan untuk hidup sebenarnya adalah hidup pada saat kini. Tidak ada waktu sementara, masa lampau dan masa akan datang, yang hilang atau disia-siakan saat kita mengalaminya di masa sekarang.
 
Bertepatan dengan dimulainya masa Prapaskah pada hari ini, inilah kesempatan – untuk berkomitmen kembali dan memperbaharui diri kita sebagai makhluk spiritual dalam perjalanan manusia. Jika anda tidak dapat mendapat abu, buatlah tanda salib di dahi anda sendiri atau mintalah teman untuk melakukannya, ulangilah kata-kata yang  dirancang untuk membangkitkan kita. Jika anda bermeditasi, perbaharuilah komitmen anda pada periode hening dan diam pada pagi dan petang hari. Jika anda mulai dan berhenti, mulailah lagi. Jika anda belum memulainya, jangan buang-buang waktu.
 
“Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat 6: 16-18)

Minggu, 12 Februari 2012

Pencarian Sebuah Identitas

SEORANG lelaki muda melenggang turun dari tangga-berjalan di Plaza Senayan, lalu melangkah menuju atrium. Tangannya menenteng satu buket kembang mawar yang menyembul dari kain dan kertas kaca pembalutnya. Tampaknya ia baru saja membeli bunga dari sebuah toko di lantai dua. Mungkin lelaki itu berbelanja bunga untuk seseorang yang memiliki relasi tertentu dengannya. 

Bisa juga ia belanja bunga untuk dirinya sendiri. Tapi kejadian seorang lelaki muda berbelanja bunga di sebuah plasa, jelas bukan kebiasaan umum pada masyarakat kebanyakan di negeri ini. Bunga, lelaki muda dan Plaza Senayan. Tiga hal yang jika terangkai dalam satu peristiwa, yang ditangkap adalah bahwa itu kebiasaan kalangan tertentu.

Dalam penggalan jangka waktu, keberadaan plaza sebagai tempat perbelanjaan modern, menghasilkan pola perilaku baru pada masyarakat yang berelasi dengannya. Tapi pola perilaku semacam apa yang berkembang?

Plaza Senayan memiliki keunikan dibandingkan Pusat perbelanjaan modern lain di Jakarta. Plaza Senayan, selain juga Plaza Indonesia, mewakili tempat belanja kelas atas di Jakarta. Plaza ini begitu kuat menampilkan diri dengan image internasionalnya. Bagaimana tidak, berbagai gerai memajang produk mulai dari busana, perhiasan berlian, salon, makanan sampai hiburan bermerek dunia. Tidak begitu susah untuk memperoleh barang dengan label Bvlgari, Prada, Louis Vuitton, Bally, Aigner atau Gucci di sana. Dua deptartement store dan supermarket kenamaan dari Jepang (Sogo) dan dari Singapura (Metro) juga hadir melengkapi atsmosfir global yang dibangun di tempat ini. 

Dalam website resmi Central America Flights menyebutkan bahwa Plaza Senayan diperuntukkan bagi yang menginginkan pengalaman belanja yang berkelas dengan kelebihan lokasi yang berada di jantung distrik keuangan ibu kota dan di tengah kawasan perkantoran.
Untuk membangun citra pusat belanja yang bergengsi, Plaza Senayan tidak hanya menawarkan kenyamanan tempat belanja yang menampilkan keanggunan lantai marmer, sebuah atrium yang gagah, tata cahaya yang sempurna dan juga keleluasaan ruangan yang makin mahal di Jakarta ini, tapi plaza ini juga mampu menentukan siapa yang akan berkunjung. Dengan lebih memperbanyak menawarkan kebutuhan kelas atas , dengan sendirinya masyarakat yang berkunjung akan sesuai dan tepat seperti yang diinginkan, yaitu ujung dari masyarakat borjuis kelas atas.

Sebuah tas kulit wanita ukuran sedang produk Bally dengan label Black Lamb Nappa Plain seharga Rp 9.990.000 akan lebih mudah ditemukan di Plaza Senayan dibandingkan di plaza atau mall lain. Jika seseorang ingin mencari sebuah dompet kulit produk Louis Vuitton seharga Rp 4.000.000, ia akan lebih suka memilih pergi ke tempat ini dibandingakan tempat lainnya. Plaza Senayan sudah seperti Pasar Baru pada jaman Hindia Belanda, elit dan untuk kalangan tertentu.

Sebuah situs yang khusus membantu kalangan ekspatriat yang berencana tinggal di Indonesia yang juga merekomendasikan Plaza Senayan sebagai tempat belanja, menyebutkan orang-orang kelas menengah ke atas Indonesia, kesadaran akan merek internasional kuat. Maka kalau di Plaza Senayan menyediakan setidaknya 50 lebih gerai yang menjual pakaian dan perlengkapannya dari Milan, London, Paris, New York adalah bukanlah suatu ketidak-sengajaan.

Tidak heran tempat ini sering disebut-sebut sebagai wilayah edar selebritis dan pejabat. Hadi Poernomo, direktur jenderal Pajak, mengaku memilih Plaza Senayan sebagai tempat favoritnya untuk jalan-jalan, makan, serta mengantar istri dan anaknya belanja . Inet, seorang pengarah program promosi pariwisata Jakarta di luar negeri, saat ditanya apa yang dilakukannya saat jenuh bekerja, ia menjawab akan menghabiskan sekitar Rp 20.000 – Rp 30.000 untuk main game di Plaza Senayan . Bintang film, sinetron dan iklan Okan Kornelius Tjewn, memilih Plaza Senayan sebagai tempat nongkrong pilihannya .

Sisi lain Plaza Senayan berikutnya adalah munculnya sederetan nama-nama café yang tidak hanya menjual secangkir kopi untuk diminum saja. Sebut saja Starbucks, Coffee Club, Coffee Bean & Tea Leaf dan nama lain yang menjual suasana ringan, tenang dan santai sambil menyediakan secangkir kopi, musik dan akses internet nir-kabel. 

Konsep ini mengadopsi tradisi intelektual Perancis yang gemar minum kopi sambil ngobrol ditepi-tepi jalan . Maka anak-anak muda kelas menengah Jakarta, lalu gemar datang ke café-café ini untuk sekedar ngobrol, diskusi, membaca bahkan mengerjakan pekerjaan kantor. Banyak orang memilih duduk-duduk di café seusai pulang kerja sambil menunggu kemacetan lalu lintas usai. Fenomena orang menyeruput kopi sambil menghadapi komputer mini merebak di café-café Plaza Senayan. Tempat-tempat minum yang nyaman seperti ini juga sering menyeret pengunjung yang tadinya hanya ingin belanja saja, tiba-tiba memutuskan mengistirahatkan kaki sambil menikmati aneka pilihan kopi dari berbagai belahan dunia sembari membaca Koran di sana. Plaza Senayan seperti satu simbol modernitas kota dan trend gaya hidup kosmopolitan.

Tampaknya pusat perbelanjaan yang berada di Jalan Asia Afrika ini, sudah menjadi semacam kekuasaan. Seperti gagasan Foucault, kekuasaan adalah soal praktik-praktik konkrit yang lantas menciptakan realitas dan pola-pola perilaku, memproduksi wilayah objek-objek pengetahuan dan ritual-ritual kebenaran yang khas . Dikatakan kekuasaan karena Plaza Senayan memiliki kekuatan yang mampu menggerakkan seseorang untuk datang, menikmati dan membeli. Seluruh simbol-simbol mewah yang diusung oleh plaza yang dibangun dengan dana 70% dari Jepang ini adalah sebuah daya tarik yang berkekuatan.

Dengan seluruh daya tariknya, Plaza Senayan berhasil dalam membangun pengetahuan atau konsep baru mengenai gaya hidup ‘yang berbeda’ dari ‘yang lain’. Plaza Senayan seolah ingin berkata, pakailah produk ini, lalu kamu akan berbeda dari yang lainnya. Lalu sinyal demikian ditangkap dan direspon publik. Terbukti kemudian dengan munculnya kecenderungan fanatik pada merek-merek tertentu. Ungkapan-ungkapan macam ‘ini gue banget’ atau ‘gue kan tau barang’ adalah peneguh dari semua itu. Sampai disini kekuasaan telah melahirkan pengetahuan.

Kekuasaan ini juga telah mengklasifikasikan sebagian masyarakat yang telah mengidentitaskan dirinya berdasarkan apa yang ia peroleh dari plaza ini. Begitu kita berada di dalam Plasa Senayan saja, kita seolah-olah merasa terpisah dengan dunia di luar. Melalui simbol-simbol berupa merek dagang kelas dunia dan tawaran kebiasaan hidup dengan kesan mahal dan berselera tinggi, mampu membuat seseorang merasa berbeda.

Eric Fromm dalam bukunya yang berjudul To Have Or to Be, mengelompokkan motif hidup manusia menjadi dua . Jenis pertama adalah orang dengan motif to have (memiliki). Orang dalam jenis ini, akan merasa dirinya berharga saat merasa memiliki sesuatu (harta, pengetahuan, jabatan, kecantikan dan lainnya). Jika ia tidak memiliki apapun, ia merasa dirinya tidak berharga. 

Harga dirinya ditentukan dari apa yang ia miliki. Harga diri menjadi tergantung pada sesuatu di luar dirinya. Jenis kedua adalah orang dengan motif to be (menjadi). Orang jenis ini merasa tanpa memiliki sesuatupun, dirinya sudah berharga dengan sendirinya. Orang seperti ini lebih memiliki kemerdekaan dan otoritas pada dirinya. Tampaknya apa yang disodorkan oleh Plaza Senayan akan lebih mendorong individu yang berinteraksi dengannya, kearah motif yang pertama. Plaza Senayan melalui bisikannya akan terus mencoba menggeser pertimbangan pembelanja dari fungsional ke prestis. Rasanya tepat sekali ungkapan Lauren Bain , plaza seperti ini pada dasarnya, adalah sebuah tempat yang dikuasai bukan oleh negara, melainkan oleh dolar dan keinginan para pembelanja akan komoditas terbaru.

Namanya Bu Inah


BU INAH. Perempuan asal Yogja. Usia 45 tahun. Umur 14 tahun ia menikah dengan lelaki asal Pati, Jawa Tengah di Jakarta. Sejak itu, mereka tinggal di ibukota yang riuh rendah itu. Suaminya bekerja sebagai sopir bajaj. Ia sering mangkal di pasar PSPT Tebet Timur Jakarta dari jam enam pagi sampai jam dua siang. Pendapatannya sebagai sopir bajajkian hari kian tak menjanjikan karena kalah dengan jasa ojek yang sudah merebak ke mana-mana. Orang kini lebih memilih ojek ketimbang bajaj karena lebih cepat dan sedikit lebih murah.

Kalau sedang ramai, ia memperoleh penghasilan antara Rp40.000 sampai Rp50.000 per hari. Uang itu ia pakai untuk bayar setoran Rp20.000. Sisanya baru dibawa pulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kalau sedang sepi, penghasilannya hanya cukup untuk bayar setoran. Sebenarnya ia ingin menarik bajaj sampai larut malam untuk tambahan nafkah, tapi tubuhnya sudah menua dan kesehatannya makin buruk. Sekarang ia sering sakit batuk.


Untuk membantu ekonomi keluarga Bu Inah bekerja membersihkan kantor kami dari jam sembilan pagi sampai jam 11 siang. Untuk memperoleh Rp250.000 per bulan, tiap pagi ia bekerja menyapu, mengepel, melap perabot, mencuci piring dan gelas serta menggosok kamar mandi. Tiap pagi ia berangkat kerja dengan berjalan kaki dari rumahnya ke kantor kami.

Sapaan “Assalamualaikum”  setiap pukul sembilan pagi makin akrab di telinga kami. Sebentar kemudian, seraut wajah perempuan setengah baya muncul dari balik pintu depan kantor kami. Meskipun belum ada satu bulan ia bekerja di kantor kami, kami mulai hafal dengan nada sapaannya. Sekedar sopan santun, kutanyakan di mana ia tinggal saat ini. Suaranya datar, jadi pemula kehadirannya dan kebiasaannya yang membuat kami tahu, ia akan segera memulai pekerjaannya. Tak kupedulikan benar apa jawabannya atas pertanyaanku. Namun, aku rasakan dari tanggapannya, di balik wajahnya yang pendiam tersimpan keramahan dan kerendahan hati yang kuat. Sambil mengayuhkan gagang sapu, ia menuturkan banyak hal dengan lugas. Tak ada kesan sama sekali, ia minta dikasihani.
“KONTRAKAN kami tidak bagus. Sering banjir, bahkan pernah kami sekeluarga tidak tidur semalaman karena banjir tahun ini. Kalau banjir kami harus nawu agar cepat kering,” kata Bu Inah. Ia tinggal di lingkungan kumuh, padat penduduk, di pinggir rel kereta api di kawasan Tebet Timur. Perempuan warga kampung itu kebanyakan bekerja sebagai pembantu, dan laki-laki jadi tukang ojek, sopir taksi, buruh bangunan, dll.

Begitulah nasib warga miskin di Jakarta. Tinggal di sebuah tempat yang jauh dari layak. Meskipun sering tidak tenang karena dihantui banjir, Bu Inah tak bisa berbuat apa-apa. Ia dan keluarganya hanya mampu mengontrak rumah petak seharga Rp120.000 per bulan. Kontrakan itu berupa satu kamar ukuran 3×4 meter persegi yang ia gunakan untuk tidur sekaligus tempat memasak dan makan. Tiap pagi Bu Inah dan keluarga harus antri mandi gantian dengan 30 keluarga lainnya. Pemilik kontrakan hanya menyediakan dua kamar mandi dan sebuah sumur berupa pompa dragon untuk kebutuhan air 30 keluarga sekaligus. “Kalau mau yang tidak banjir, ya harus sewa yang lebih mahal seharga Rp250.000.”

Saat ini Bu Inah dan suami serta empat anaknya tinggal di tempat tersebut bersama-sama. Anak pertamanya sudah menikah dan tinggal dengan suaminya di rumah petak sejenis di dekatnya. Anak kedua bekerja di sebuah salon, anak ketiga bekerja sebagai pramuniaga di sebuah mal, anak keempat masih duduk dibangku SMP, dan anak terakhir masih duduk dibangku SD. Ia juga sudah lupa kapan terakhir ia pulang ke daerah asalnya. Selain karena ia dan anak-anaknya tinggal di Jakarta, masalah ongkos transpor menjadi pertimbangan untuk tidak pulang ke daerah asal. Untuk kebutuhan sehari-hari ia biasanya memerlukan Rp30.000 untuk makan, kebutuhan rumah tangga, transportasi, sumbangan orang hajatan, dll. Pada musim orang ramai hajatan, ia bisa mengeluarkan sumbangan sampai empat kali sebulan.

Meskipun keluarganya memiliki KTP Jakarta, keluarga Ibu Inah tidak menerima bantuan dari pemerintah baik berupa beras untuk rakyat miskin maupun bantuan kompensasi BBM. Begitu juga 30 keluarga lain yang tinggal di lingkungannya, tak ada satu pun yang menerima bantuan. Mereka kebanyakan berasal dari Tegal dan Inderamayu dan sudah memiliki KTP Jakarta.

DENGAN segala keterbatasan itu, Ibu Inah terus melangkah dalam kehidupan ibu kota ini. Tangannya tak berhenti mengayuh sapu dan kain lap. Bu Inah selalu tersenyum setiap akan pamit seusai bekerja. Senyum dan wajahnya yang berkeringat adalah pertanda rasa ikhlas atas jerih payahnya dalam menciptakan suasana bersih di kantor kami. Dan mungkin dengan senyum tulusnya itu pula selama tiga puluh tahun ia arungi rimba Jakarta yang makin beringas ini.***