Headline

1.341 Pejabat Publik Daerah Terlibat Korupsi * Bruder "Preman" Pontianak * Petani Kopi Bajawa Kesulitan Modal * Coffee Manggarai: Black Gold * Tradisi “Suap” dan "memburu" proyek * Kota Labuan Bajo Terus Berkembang *

Selasa, 24 Januari 2012

Cerita : ‘Katak Hendak Jadi Lembu'



‘Katak Hendak Jadi Lembu’ adalah sebuah cerita yang sangat sederhana tapi pesan moralnya begitu melekat. 

Ceritanya begini;

Suatu ketika di sebuah kandang lembu ada seekor katak batu yang rupanya rajin mengamati si lembu betina yang pendiam dari balik bongkahan batu. Setiap hari si katak melihat pemilik lembu selalu memberikan makanan rumput segar, memandikan, dan mengajaknya jalan ke padang rumput hijau nan luas.

Pada suatu kesempatan, katak batu itu mendekati si lembu betina yang sedang makan. Katanya dengan nada sinis, “Hai, lembu. Enak sekali hidupmu. Setiap hari kau selalu mendapat perhatian dari manusia dan juga selalu dikasih makan. Kau selalu dirawat dan diajak jalan-jalan di padang rumput hijau. Semua itu apa karena badanmu yang besar?”

Si lembu betina tak menjawab, ia terus makan dan makan. Sambil sesekali kepalanya menggeleng kiri kanan mengusir lalat-lalat yang mengerubungi makanannya. Karena si lembu betina tak juga menjawab, maka katak batu itu menghardiknya lagi. Kali ini dengan nada suara lebih keras lagi. “Hai…lembu dungu. Kalau hanya karena badanmu yang besar, kau mendapat perhatian manusia maka aku pun mampu menyamai besar tubuhmu. Nih…lihatlah!”

Si katak batu itu lalu segera memperagakan diri di hadapan lembu betina. Katak batu itu menggelembungkan badannya. Bermula dari perut, kemudian leher, kaki, dan seterusnya. Perut katak batu itu sedikit demi sedikit membesar, dan kemudian terlihat begitu besar. Namun setelah membesarkan perut dan leher, rupanya badannya tak juga bisa menyamai lembu. Si katak batu sangat penasaran, karena badannya belum juga mampu menyamai besarnya lembu itu. Perutnya terus digelembungkan lagi dan lagi… Akibatnya perut itu meletus. Isi perut berhamburan ke mana-mana. Si katak batu itu pun mati dengan kondisi yang sangat mengenaskan.

Melihat katak batu yang malang itu telah mati, si lembu betina pun tak mampu menahan kesedihan. Tapi ia juga tak bisa berbuat banyak. Si lembu betina itu tahu bahwa dirinya tak memiliki kuasa apa pun atas hidup.

***

Kata orang bijak, kerendahan hati adalah prinsip dasar orang beriman kepada Yang Maha Kuasa Sang Pencipta alam semesta. Dari kerendahan hati itulah munculnya ketulusan dan pengakuan diri, bahwa manusia hanyalah seonggok daging tak berdaya atau debu halus di hadapan Sang Khalik.

Sementara kesombongan adalah upaya penyangkalan diri manusia atas ketidakberdayaan raga dan spiritual di hadapan Yang Ilahi. Kesombongan menjadi semacam kompensasi psikologis untuk menutupi ketidakmampuan diri, yang kadang tersimpan dalam dunia alam bawah sadar. Kesombongan diri seseorang muncul, biasanya bertujuan agar diakui eksistensinya. Terutama di lingkungan sosialnya. Kesombongan dan keangkuhan merupakan saudara kembar.

Seorang psikolog terkenal asal Austria Alfred Adler (1870-1937) mengatakan, bahwa kesombongan itu pada dasarnya merupakan sikap mengutamakan diri sendiri. Adler menyebutnya sebagai self centered. Semuanya berpusat pada diri sendiri. Kalangan orang beriman alim ulama memposisikan egoisme sebagai awal dari dosa. Egosentrisme menjadi akar dari dosa. Manusia terjerumus ke dalam dunia hitam kelam karena terlalu mengagungkan ke-aku-annya. Aku merasa paling benar, paling bersih, paling hebat, paling suci, paling berkuasa, dan berbagai predikat superlatif lainnya. Peperangan, kerusuhan, kriminalitas, aniaya, dan kesengsaraan acapkali bermula dari sana.

Kerendahan hati dan kesombongan berjalan seiring dalam dunia yang sama, meski berbeda kharakter dan motivasi dasarnya. Tapi kadang, kesombongan bersembunyi di balik ‘kerendahan hati’ sehingga menjadi seolah-olah rendah hati. Padahal jauh di lubuk hati, ingin dipuji dan diakui ke-ego-annya. Sejatinya, kerendahan hati akan terus bertahan. Sementara kesombongan akan terkuak bersama perjalanan sang waktu.

Apa itu kerendahan hati dan mengapa manusia harus rendah hati? Mengapa orang tak boleh sombong?
Seorang guru kebijaksanaan yang juga seorang sufi dari timur menggambarkan kerendahan hati itu dalam simbol anak kecil. Anak adalah lambang ketulusan hati, ketidakberdayaan, dan kejujuran. Tingkat ketulusan, kepolosan anak kecil dan kejujurannya tak bisa disangkal lagi. Begitu tulus, jujur, dan bersihnya pribadi anak-anak, hingga para cerdik pandai menyebut anak-anak bagai tabularasa. Suatu lembar kertas putih bersih yang apa pun bisa ditorehkan di sana. Menurut sang guru, hanya manusia yang memiliki level kesucian, ketulusan, kepasrahan, dan kejujuran seperti anak kecil itulah yang pantas berhubungan dekat dan berada dalam pangkuan Sang Khalik.

Ketidakberdayaan anak kecil, kata sang guru, adalah lambang ketidakmampuan manusiawi yang akan malahirkan kepasrahan diri secara total tanpa syarat kepada Sang Pencipta. “Lihatlah, betapa anak kecil itu hidupnya sangat bergantung sepenuhnya pada orangtuanya, ibu dan ayahnya. Begitu pula seharusnya manusia di hadapan Sang Pencipta,” kata sang guru pada suatu kesempatan.

Menurut sang guru kebijaksanaan yang juga sufi itu, sebenarnya tak ada dasar dan alasan apa pun bagi manusia untuk menyombongkan diri. Fakta ilmiah menyatakan bahwa manusia adalah bagian kecil dari makhluk hidup yang ada di atas bumi. Hidup manusia berdampingan dengan makhluk hidup lainnya dan saling bergantung. Manusia tak mungkin hidup sendiri. Ketergantungan manusia sangat tinggi pada kehidupan lain di sekitarnya. Bumi tempat manusia hidup pun, jika dibandingkan dengan planet-planet lain dalam susunan tata surya, hanyalah bagian kecil dari semesta raya. “Jika bumi saja hanyalah bagian kecil atau bahkan hanya merupakan debu kosmis di alam semesta raya yang mahaluas, lalu bagaimana dengan manusia? Nah, sekarang bayangkanlah bagaimana agungnya Sang Pencipta alam semesta itu. Masihkah manusia bisa membusungkan dada tentang dirinya di hadapan Sang Pencipta?” kata sang guru.

Setiap saat manusia dalam berbagai kepercayaan dan keyakinannya yang amat beragam diberikan kesempatan untuk berintrospeksi, melalui bermacam-macam peristiwa dan acara keagamaan. Tujuannya refleksi diri ke dalam batin masing-masing. Masih pantaskah menyombongkan diri di hadapan orang lain dan terlebih-lebih di hadapan Yang Maha Kuasa? Mungkin ada baiknya, mulai detik ini kita mulai meneliti diri, apakah kita sudah rendah hati dan tidak sombong?

Gusti Dula Mengaku Selalu Dicecar Soal Air Bersih


Bupati Manggarai Barat Agustinus Ch Dula dalam serah terima jabatan Direktur PDAM Wae Mbeliling di Kantro Bupati mengaku Pemerintah daerah Manggarai Barat selama ini selalu mendapat sorotan, kritik, cercaan bahkan caci maki terkait penanganan air bersih kota Labuan Bajo yang hingga kini belum tutas. Tapi anehnya sekalipun merasa bersalah akan lambatnya penanganan persoalan air Gusti Dula sebagai Bupati tidak meminta maaf kepada masyarakat Manggarai Barat
 
Warga Kota Labuan Bajo terpaksa mengkonsumsi air got,
 setelah daerah tersebut dilanda krisis air bersih
 “Selama ini kita terus yang disorot, dikritik dan dicaci maki hanya air bersih ini. Program 100 hari air bersih sudah lewat tetapi belum membawah hasil. Dengan adanya Plt.Direktur PAM yang mulai kerja hari ini, bias menjawab masalah air bersih Labuan Bajo,”tandas Bupati Manggarai, Agustinus Ch Dula disela-sela acara serah terima jabatan Direktur PDAM Wae Mbeliling di Kantro Bupati belum lama ini.

Kini pemegang jabatan (Plt) Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) adalah putra Labuan bajo,  Naaman M.Jalesy.  Semenatara jabatan yang terus menuai kritikan ini sebelumnya ditangan Aleksander S.S.Kelang


Bupati Gusti Dula, mengakui belaangan masyarakat terus menyoroti pemerintah dan memberikan kritik serta pikiran posistif terkait persoalan proyek air bersih yang tak kunjung selesai. Dana selelu dicairkan setiap tahun untuk masalah ini tapi masyarakat terus berteriak sulit mengakses air bersih. Dula menegaskan masyarakat butuh sesuatu yang nyata dan itu harus dijawab oleh pemerintah. Pemerintah melalui unit teknis dan dinas yang ada harus memberikan bukti riil bahwa masyarakat tidak mengalami kesulitan lagi soal air bersih ini.

Dula berjanji pemerintah terus berupaya maksimal mengatasi masalah air bersih di Labuan Bajo ini. “Masyarakat Manggarai Barat merasa heran karena masalah air bersih ini sepertinya tidak bisa terpecahkan. Karena itu, unit teknis jangan membuat seakan-akan tidak terselesaikan. Padahal tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan, pasti ada jalan keluarnya. Semua pihak harus ambil bagian karena air bersih sangat penting untuk kebutuhan,”tandasnya.

Dana urus air 2012 senilai 3,1 Milliar

Pihaknya menjelaskan tahun 2012 pemerintah menganggarkan dana sebesar 3,1 milliar an diharapkan proyek air bersih secepatnya selesaikan. Dia mengatakan Master Plan Air Bersih sudah ada tinggal ditindaklanjuti dengan Desain Enginering Development sehingga bisa berhasil dengan baik. Kondisi yang dihadapi saat ini distribusi air yang belum betu, banyak kebocoran dimana-mana yang menyebabkan debit air kecil saat tiba ditangan pelanggan. “Saya ingatkan pejabat yang dipercaya mengurus air bersih ini harus merasa bertanggungjawab dan memiliki Manggarai Barat ini,”tandasnya

Plt Direktur PAM Wae Mbeliling, Naaman M.Jalesy mengatakan Setiap masalah yang dihadapi pasti ada solusi akhir. Yang pertama dilakukan menurut Jalesy dirinya  akan mengumpulkan data, fakta dan mencari masalah-maslah yang ada lalu merumuskan titik masalahnya dimana selanjutnya mencari jalan keluarnya. “Beri saya waktu, saya punya obsesi 2013 paling lama masalah air bersih Labuan Bajo teratasi,”janjinya 

Senin, 23 Januari 2012

Kencing Anggota Dewan Vs Wajah Pendidikan


Anggota Dewan RI kembali heboh, Bak selebritis Anggota dewan negeri ini kembali bersensasi.  Satu diantaranya soal “tempat kencing” para anggota dewan. Untuk membuat WC saja Negara harus mengeluarkan dana milliaran rupiah. Seolah air seni anggota dewan lebih penting ketimbang urusan pendidikan bangsa.

Media Inggris, Daily Mail, menuliskan sebuah artikel yang menggambarkan betapa beratnya perjalanan para pelajar Indonesia menuju ke sekolah. Harian ini bahkan menyamakan aksi mereka dengan adegan berbahaya di film Indiana Jones. Pada foto-foto yang diambil oleh Reuters, terlihat beberapa orang pelajar SMP dan SD di kampung Tanjung, Lebak, Banten, meniti sebuah jembatan rusak yang hanya dihubungkan dengan satu tali terbentang di atas Sungai Ciberang.

Merayap perlahan-lahan, mereka berusaha untuk tidak tergelincir masuk ke dalam sungai Ciberang yang berarus deras dan dalam. Sungai ini kerap digunakan para wisatawan untuk olah raga arung jeram. Pegangan mereka hanyalah tali dan kayu-kayu sisa-sisa jembatan. Daily Mail menuliskan, anak terkecil yang pernah menyeberang berusia lima tahun. Penyeberangan menjadi semakin berbahaya jika sungai Ciberang diterpa banjir. Titian tali bisa terendam air dan putus terbawa arus. “Aksi mereka seperti aksi di salah satu adegan di film Indiana Jones and The Temple of Doom,” tulis Daily Mail.




Para pelajar mengaku lebih memilih menghadapi bahaya meniti tali ketimbang harus berjalan setengah jam lamanya ke jembatan yang lebih bagus. Jika mereka mencari aman, maka harus bangun pagi-pagi buta dan pulang ketika hari sudah gelap.

Betapa mahalnya pendidikan, dan para pelajar di kampung Tanjung Lebak Banten ini pun mengerti hal tersebut hingga mereka pertaruhkan nyawa diatas bahaya demi masa tepan mereka yang tidak boleh tergantikan dengan apapun, karena ilmu begitu berharga. Mereka tidak akam mengeluh dan menghiba dengan kondisi ini, karena bagi mereka belajar adalah wajib


Nun jauh dari kampung Tanjung, Lebak Banten yaitu di Senayan Jakarta para dewan yang terhormat sedang memimpikan memiliki fasilitas toilet baru yang bakal memanjakan hidup mereka lebih dan lebih, seberapa berharga kahnilai pendidikan bangsa ini bagi mereka yang diamanahi membela rakyatnya? Nurani sudah mati terkubur dengan kepentingan dan ambisi duniawi, beginikah bangsa ini? apa jadinya generasi kita di kemudian hari?


Rabu, 18 Januari 2012

Sosial Network Membangun "Percakapan Baru"

Di tengah pertumbuhan luar biasa pengguna blog, facebook, linkedin, dan twitter, para manajer pemasaran terus berupaya mencari jalan bagaimana mengambil mutiara dari dalamnya. Orang-orang public relations sudah lebih dulu memanfaatkan media sosial untuk berkomunikasi dengan pelanggan, mitra, kalayak luas. Mereka berusaha mendengarkan apa yang diinginkan pelanggan. Departemen pemasaran memakainya untuk menginformasikan produk/jasa,  membangun dan menguatkan merek.
Setidaknya ada empat faktor yang mendorong kecenderungan ini. Pertama, popularitas media sosial yang meningkat cepat. Kedua, melibatkan pelanggan dalam menciptakan produk/jasa kian dianggap penting. Ketiga, media sosial makin diterima sebagai alat persuasi yang ampuh. Dan keempat, media sosial dianggap menawarkan jalan keluar dari kesulitan yang ditemui dalam program komunikasi pemasaran tradisional. Misalnya keluasan jangkauan dan kecepatan respons.
Meskipun begitu, kebanyakan perusahaan masih berusaha memahami bagaimana menciptakan nilai dari pertumbuhan ini dan ujung-ujungnya memberikan revenueyang berarti bagi perusahaan. Perusahaan-perusahaan ini umumnya belum sanggup mengkapitalisasi informasi dan data yang mereka peroleh melalui media sosial menjadi wawasan yang berdampak pada bottom line mereka.

Menurut hasil survey yang diadakan Harvard Business Review Analytic Services baru-baru ini, hanya 23% saja perusahaan Amerika yang menggunakan alat-alat analisis media sosial untuk memahami hasil interaksi mereka dengan pelanggan. Perusahaan selebihnya tidak mengukur, apa lagi menganalisis, apakah media sosial mereka efektif sebagai sarana untuk mencapai tujuan perusahaan. Analisis diperlukan, misalnya, untuk mengetahui siapa yang berbicara tentang merek Anda di media sosial—apakah mereka pelanggan loyal Anda atau bukan? Seberapa cepat dan tepat orang pemasaran dan customer service memberikan respons kepada pelanggan?
Survei ini juga menyebutkan, hanya 7% perusahaan yang mampu mengintegrasikan media sosial ke dalam aktivitas pemasaran mereka. Banyak perusahaan memang menemui kesulitan dalam menjadikan media sosial sebagai bagian dari strategi pemasaran yang formal. Ada manajer yang menunggu best practice pemakaian media sosial dalam menciptakan nilai agar punya contoh untuk diikuti. Ada yang tidak bersedia mengalokasikan anggaran untuk itu.
Riset yang dilakukan Media Social Today (2009) menemukan, kalangan bisnis memanfaatkan media sosial untuk empat hal: menjual produk/jasa, memasarkan dan membangun merek, public relations, dan komunikasi internal. Kerja kolaboratif melalui media sosial belum menjadi perhatian. Perusahaan umumnya masih mencari cara yang tepat untuk menciptakan nilai melalui media ini. Proses menemukan kematangan dalam pemanfaatan media sosial tengah berlangsung, dan apa yang terjadi saat ini baru permulaan.
Media sosial memang menciptakan peluang-peluang baru, tapi media ini juga menuntut pergeseran pemikiran dalam berinteraksi dengan pelanggan, mitra, bahkan sesama rekan kerja. Salah satu masalah pokok yang dihadapi banyak perusahaan ialah bagaimana mengintegrasikan penggunaan media sosial ke dalam strategi perusahaan, bukan sekedar untuk gaya-gayaan alias mengikuti trend.
Yang jelas, kemampuan analitik terhadap efektivitas media sosial akan sangat membantu perusahaan dalam memahami bagaimana cara yang tepat dalam membangun “percakapan baru” dengan pelanggan, mitra, dan karyawan mereka. Memahami bagaimana hubungan baru ini akan berjalan bakal sangat mempengaruhi bagaimana para pelaku bisnis menjalankan aktivitasnya.